LOGINKami duduk berhadapan. Aku menyendokkan Nasi Jeruk ke piring Althaf—butiran nasinya masih harum dan berkilauan—kemudian aku memberinya porsi besar Ayam Betutu kuah. Daging ayam yang empuk dan kuah pedasnya tampak menggugah selera.“Mas, selamat makan,” kataku tulus.“Selamat makan, Sayang,” balas Althaf, ia meraih tanganku dan mengecup punggungnya sebelum mulai menyantap. “Terima kasih banyak, ini comfort food yang paling saya rindukan setelah seharian diluar rumah.”Althaf mulai menikmati hidangannya dengan lahap. Aku memperhatikannya, melihat bagaimana raut tegang di wajahnya perlahan luntur seiring setiap suapan yang ia nikmati. Ini adalah momen intim kami, fondasi yang ku coba pertahankan mati-matian dari guncangan Theresa Adrianna.Aku tahu, meskipun suasana sudah nyaman, aku harus bertanya. Jika aku menunda lagi, bayangan Theresa yang anggun di layar TV—sang Top Model yang sempurna—akan kembali menghantuiku. Aku tidak mau membiarkan rasa pen
Aku duduk di meja makan, menatap hidangan yang telah aku masak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di dapur, menuangkan semua energi cemas dan rasa insecurity terhadap Theresa menjadi hidangan yang hangat. Di hadapanku, tersaji Ayam Betutu Kuah yang aromanya menggiur kan, kaya akan wangi rempah, jahe, dan kunyit—rasanya pasti pedas dan hangat. Ayam utuh itu dimasak perlahan hingga dagingnya begitu lembut. Hidangan utama itu ditemani semangkuk besar Nasi Jeruk yang harum, butiran nasinya pulen dan berkilau. Sebagai pelengkap, ada Tumis Bunga Pepaya yang sengaja kutambahkan teri medan agar rasanya seimbang, tidak terlalu pahit.Semua tertata rapi di atas piring-piring keramik yang baru kami beli. Aku menatapnya dengan tatapan bangga. Aku mengambil ponselku, membuka kamera, dan memotret makanan di meja makan itu dari sudut terbaik, memastikan plating yang rapi dan uap tipis yang masih mengepul terlihat jelas.aku mengirimkan foto itu pada Althaf.[Sent to : Mas Althaf]Makanan sudah sia
Di layar itu, terpampang jelas akun Instagram dengan ikon centang biru dan followers yang mencapai jutaan. Feed-nya menampilkan foto-foto Theresa Adrianna dalam balutan gaun haute couture di berbagai fashion week Eropa. Sosok wanita itu tampak sangat cantik, elegan, dan memancarkan aura jet-setter yang profesional dan mahal. Wajah Theresa benar-benar tanpa cela: mata tajam, tulang pipi tinggi, kulit porselen yang memancarkan aura dingin, dan sorot mata yang penuh percaya diri—sebuah kecantikan yang terasa matang, elit, dan sangat mahal.“Iya, Lay. Ini dia. Wajahnya sama persis,” bisikku, lidahku terasa kelu. “Dia... dia jauh lebih cantik dari yang gue bayangkan dari foto profil kecil itu.”Fakta bahwa Theresa adalah Top Model yang menetap di Milan dan tidak pernah kembali ke Indonesia, namun kini menghubungi Althaf secara urgent di hari Minggu, membuat situasiku terasa mencekik. Konflik ini tiba-tiba menjadi jauh lebih besar dan lebih pribadi daripada sekadar masal
Aku duduk meringkuk di sofa ruang TV apartemen. Udara terasa dingin, meskipun di luar cerah. Aku baru saja mematikan televisi, tak ada satu pun suara berita di sana yang bisa menenggelamkan riuh di kepalaku. Baru beberapa jam yang lalu, aku terbangun dalam pelukan Althaf yang begitu hangat; kini, yang tersisa hanyalah kekosongan dan kehampaan.Althaf sudah pergi. Ia pergi begitu cepat, tergesa-gesa mengganti baju training-nya dengan kemeja formal, setelah menerima telepon yang tidak ia sebutkan namanya. Tentu saja, aku tahu siapa yang membuat rahangnya menegang dan membuatnya buru-buru menghilang: Theresa Adrianna.Nama itu mendadak menjadi racun yang menyebar di nadiku. Setelah semua janji, semua keintiman yang kami bagi semalam—pengakuan cinta, belanja groceries bersama, tidur berdua, dan janji lari pagi sebagai fondasi pernikahan kami—kenapa ia memilih pergi mendadak dengan raut wajah tegang saat nama wanita lain muncul?Aku bangkit, berjalan gelisah menuju dapur. Aku membuka kulka
Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m
Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da
"Senjani, saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan."Kalimat itu menghantam telingaku seperti petir di siang bolong. Seketika, jantungku berdebar tak terkendali. Di hadapanku, Althaf duduk di depan meja kerjanya. Meja kayu besar itu tampak rapi, hanya ada setumpuk berkas, sebuah pena per
Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata
Setelah tiga bulan menjalani pernikahan bersama Althaf, ternyata benar seperti yang dikatakan Mbok Mirna, Althaf memang jarang sekali pulang ke rumah. Biasanya hanya dua minggu sekali, bahkan kadang sampai tiga minggu baru sekali pulang. Itupun hanya sebentar, langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa
Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak







