LOGINCHAPTER 92
“Sejak kapan?”“Jauh sebelum kau lahir.”Jawaban itu membuat Dylan kehilangan kata-kata. Potongan-potongan kenangan yang selama bertahun-tahun tersimpan begitu saja tiba-tiba muncul kembali di kepalanya.Napas Dylan mulai terasa berat. “Apakah…” Tenggorokannya terasa kering. Ia menatap Arthur tanpa berkedip. “Apakah dia gadis yang kucari?”Arthur memejamkan mata sesaat. Lalu mengangguk. “Ya.”Mendengar itu, Dylan hanya berdiri di tempatnya. PandangannyaCHAPTER 110Pintu utama terbuka bahkan sebelum Dylan sempat menekan bel.Seorang pria paruh baya sudah berdiri di ambang pintu, seolah memang telah menunggu kedatangan mereka. Senyum hangat langsung menyambut keduanya. “Selamat datang.”Dylan mengangguk kecil. “Ayah.”Summer yang berdiri di samping Dylan seketika membeku. Ayahnya…? Tatapannya tak lepas dari pria di hadapannya. Entah mengapa wajah itu terasa begitu akrab, seolah pernah ia lihat bertahun-tahun yang lalu, tetapi semakin ia berusaha mengingat, bayangan itu justru semakin kabur.Arthur ikut memandang Summer beberapa saat. Senyumnya tak berubah. “Kau sudah besar.”Summer tersadar dari lamunannya lalu sedikit membungkukkan badan. “Selamat siang, Pak.”Arthur masih memandang Summer. Sorot matanya perlahan melembut hingga senyum di wajahnya ikut berubah semakin hangat. “Sudah lama… saya menunggu hari ini.”Summer mengernyit pelan. Kalimat itu terdengar begitu tulus, seolah pria di hadapan
CHAPTER 109Dylan memperhatikan iring-iringan mobil keluarga Ryu hingga menghilang dari halaman Royal Crest Academy.Di sampingnya, Summer masih memandangi arah yang sama. “Senior Dylan.”“Hm?”“Arthur…” Summer mengernyit pelan. “Apa kau mengenalnya?”Dylan mengangguk. “Dia ayahku.”“Ayahmu?” Wajah Summer tampak kaget.“Iya.” Tatapan Dylan kembali jatuh kepada Summer. Ternyata gadis itu memang belum mengetahui apa pun.“Kalau begitu…” Summer kembali bertanya. “Bagaimana Kakek bisa mengenal ayahmu?”Dylan terdiam beberapa saat. Ia bisa saja menjawab, tetapi setelah semua yang baru saja terjadi, ia merasa bukan dirinya yang berhak menceritakan kisah itu.“Itu…” Senyum tipis muncul di wajahnya. “Biarkan Tuan Takeshi yang menjelaskannya nanti.” Summer mengangguk pelan, lalu kembali menundukkan kepala.Dylan memperhatikan wajah gadis itu sejenak. Hari ini terlalu banyak hal yang harus diterimanya. “Summer... apa kau baik-baik saja?”“A
CHAPTER 108Kai tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Summer yang kini berdiri di sisi Dylan sambil menggenggam lengan pria itu. Namun sesuatu telah berubah. Gadis yang selama bertahun-tahun selalu menundukkan kepala di hadapannya kini balas menatap tanpa lagi berusaha menghindar. Summer tidak lagi bersembunyi darinya.Pandangan Kai kemudian menyapu halaman Royal Crest Academy, mulai dari mobil-mobil hitam yang terus berdatangan, para pria berpakaian hitam yang telah membentuk beberapa lapis pengamanan, hingga kilatan cahaya di atap gedung utama yang langsung dikenalnya sebagai posisi para penembak.Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya kembali berhenti pada Dylan yang tetap berdiri di sisi Summer tanpa sedikit pun bergeser. Dylan ternyata telah mempersiapkan semuanya jauh lebih matang daripada yang ia perkirakan.Hari ini ia hanya datang dengan beberapa pengawal, sementara Dylan telah mengubah seluruh sekolah menjadi benteng.
CHAPTER 107“…Kai Akazakura.”Dylan seketika berdiri dari kursinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tangannya refleks merogoh saku jas lalu mengeluarkan ponsel.Begitu layar menyala, sorot matanya berubah saat melihat sembilan panggilan tak terjawab dari Ethan beserta pesan yang baru masuk beberapa menit sebelumnya.💬 Ethan: Tuan muda. Kai Akazakura menuju Royal Crest Academy. Saya tidak bisa menyusulnya secepat itu. Jalanan menuju sekolah macet. Beberapa tim kehilangan arah setelah target memecah jalur pengawasan. Maaf.“…Jadi begitu.” Dylan mengembuskan napas kasar. Kai tidak pernah menghilang. Pria itu sengaja memecah perhatian seluruh tim Ethan agar bisa datang ke Royal Crest tanpa ada yang menyadarinya.“Dy.” Cloud yang berdiri di sampingnya ikut melihat perubahan ekspresi Dylan.“Dia tidak boleh ada di sini.”Cloud mengernyit. “Lo kenal dia?”Dylan mengangkat pandangannya ke arah Summer yang masih membeku di atas panggung. “Masalah
CHAPTER 106Senin pagi.Cahaya matahari yang masuk dari balik jendela memenuhi kamar asrama Dylan. Ia berdiri di depan meja kerja sambil membuka laci paling bawah, lalu mengangkat sebuah kotak beludru hitam.Saat tutupnya terbuka, di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana dengan liontin perak kecil.Tatapan Dylan melembut. Kalung itu sudah ia siapkan beberapa waktu lalu sebagai hadiah kelulusan untuk Summer. Dan hari ini, akhirnya tiba juga saat yang ia tunggu untuk memberikannya.“Bagus.” Suara Cloud membuat Dylan menoleh. Pria itu bersandar santai di dekat pintu sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Dia pasti suka.”Dylan kembali memandang kalung itu beberapa saat, lalu menutup kotaknya perlahan. “Cloud.”“Hm?”“Ada yang belum gue omongin sama lo.”Cloud mengangkat sebelah alis, menyadari nada bicara Dylan kali ini jauh lebih serius daripada biasanya. “Apa?”“Gue tahu… lo pernah suka sama Summer.”Cloud terdiam mendenga
CHAPTER 105Saat bel panjang akhirnya berbunyi, ruang ujian yang semula sunyi seketika berubah riuh. Beberapa siswa langsung menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengembuskan napas lega, sementara yang lain tertawa dan saling melempar candaan begitu para pengawas mulai mengumpulkan lembar jawaban terakhir.Summer menyerahkan kertas ujiannya, merapikan alat tulis ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama arus siswa yang mulai meninggalkan ruang kelas. Begitu tiba di koridor, Emma yang sejak tadi berada di sampingnya tiba-tiba mengangkat kedua tangannya ke udara.“Aku resmi bebas!”Summer tersenyum geli. “Baru selesai ujian, sudah merasa jadi orang baru?”“Jelas.” Emma merentangkan kedua lengannya sambil berjalan di samping Summer. “Lima hari berturut-turut bangun pagi, belajar, ujian, pulang, belajar lagi. Aku hampir lupa rasanya hidup.”“Kamu memang berlebihan.”“Aku serius.” Emma menepuk dadanya dramatis. “Mulai malam ini aku nggak mau lihat buku sat
CHAPTER 46Di sisi lain kompleks akademi yang luas, Summer terus berlari menembus kegelapan. Ia tidak tahu ke mana kakinya membawanya, yang ia tahu hanyalah ia harus menjauh dari nama yang barusan membelah dunianya. Gaun champagne mahalnya tersangkut semak-semak mawar liar, kainnya robek
CHAPTER 45“Enggak,” jawab Dre cepat, rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. “Dan gue hafal hampir semua wajah donatur tetap yang punya akses ke lelang privat RCA. Gue hafal setiap wajah di daftar Forbes wilayah ini. Orang ini... dia seperti muncul dari antah berantah.
CHAPTER 44Dylan, yang baru saja mengangkat gelas kristalnya untuk meneguk minuman, mendadak berhenti di tengah gerakan. Gelas itu tertahan hanya beberapa senti di depan bibirnya, sementara matanya terkunci pada sosok yang baru saja membelah kerumunan. Di sampingnya, Cloud, Dre, Tom, dan
CHAPTER 43Keesokan paginya, Royal Crest Academy (RCA) tidak lagi terasa seperti sekolah. Atmosfernya telah berubah menjadi medan pertempuran elit yang dibungkus dengan kemewahan yang menyesakkan. Karpet merah membentang angkuh dari gerbang utama hingga aula besar, diapit oleh deretan st







