로그인Zara mengulurkan tangannya, mengusap pipi lembut Sean dengan rasa kasih sayang yang tulus murni dari dalam dadanya. Terlepas dari penyamarannya, cintanya pada Sean adalah hal paling nyata yang ia rasakan."Mama akan selalu ada untuk Sean ... selama Sean membutuhkan Mama," jawab Zara dengan nada suara yang sedikit bergetar menahan gejolak emosi."Sean butuh Mama selamanya!" balas Sean cepat tanpa ragu sedikit pun. Anak itu langsung memeluk lengan kiri Zara erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu Zara.Arham memperhatikan pemandangan itu dengan sepasang mata yang melembut. Ketulusan Zara dalam menyayangi Sean adalah alasan utama mengapa hatinya yang sekeras batu bisa luluh total pada wanita ini. Bagi Arham, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi wanita ini di dalam hidupnya dan hidup anak semata bakalnya."Makan sarapanmu dulu, Sean. Nanti kita terlambat ke sekolah," tegur Arham halus namun tegas."Siap, Papa!" Sean melepaskan pelukannya, lalu kembali melahap sarapa
Arham sama sekali tidak terlihat panik atau terganggu dengan celetukan polos anaknya. Sebaliknya, pria matang itu justru tertawa rendah, suara tawanya yang hangat dan seksi memecah heningnya ruang makan. Ia bangkit dari kursinya, melangkah santai mengitari meja makan hingga berdiri tepat di samping kursi Zara."Papa cuma memastikan Mama tidur dengan nyenyak, Sean," ujar Arham tenang.Sebelum Zara sempat bereaksi atau menjauhkan tubuhnya, Arham membungkukkan badannya. Pria itu mendaratkan ciuman yang cukup lama dan hangat tepat di pipi mulus Zara. Aroma parfum maskulin Arham yang khas bercampur aroma sabun mandi langsung menyergap indra penciuman Zara dari jarak semeter."A-Arham! Ada Mama sama Sean ...," bisik Zara panik dengan mata membelalak, mencoba mendorong dada Arham pelan.Arham tidak peduli. Ia justru makin menegakkan tubuhnya dengan santai, membelai puncak kepala Zara dengan penuh rasa kasih sayang yang terang-terangan di depan semua orang."Kenapa? Ini rumahku, kamu ca
Suara denting sendok yang bertabrakan pelan dengan piring porselen terdengar mengalun lembut dari arah meja makan. Aroma harum nasi goreng mentega, telur mata sapi, dan seduhan kopi hitam pekat menyergap indra penciuman Zara begitu kakinya menapak di lantai dasar. Cahaya pagi menyirami ruang makan yang luas lewat jendela-jendela kaca besar, memantulkan pendar hangat di atas meja kayu jati yang mengilap.Di sana, Arham duduk santai di kepala meja dengan kemeja biru gelap yang bagian lengan kemejanya digulung rapi hingga ke siku. Rambutnya masih sedikit basah, tertata acak-acakan namun justru menambah pesona pria matang yang amat memikat. Di samping kirinya, Sean duduk di atas kursi tingginya sembari mengayun-ayunkan kedua kaki kecilnya dengan riang. Sementara Lusi duduk berhadapan dengan Sean, tersenyum lembut sembari menyesap teh hangatnya."Pagi, Mama!" seru Sean nyaring begitu matanya menangkap sosok Zara yang baru saja melangkah mendekat.Panggilan itu seketika membuat Arham me
Pilihan Zara jatuh pada sebuah gaun kasual bermotif bunga halus dengan kerah tinggi yang menutupi leher hingga ke bawah dagu, serta lengan panjang yang menutupi seluruh tangannya. Pakaian ini memang sedikit terlalu tertutup untuk suasana pagi hari di dalam rumah, tetapi Zara tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin Ibu Lusi atau para pelayan di rumah ini melihat jejak-jejak merah di lehernya.Zara mengenakan gaun itu dengan hati-hati. Setelah pakaian terpasang rapi, ia duduk di depan meja rias untuk merias wajahnya.Zara mengoleskan bedak tipis untuk menyamarkan lingkaran hitam dan rona sembap di sekitar matanya. Ia juga memoleskan pelembab bibir untuk merawat bibirnya yang kering. Di cermin, ia berusaha mengukir senyum terbaiknya. Ia harus bersikap wajar di depan semua orang, terutama di depan Sean.Anak kecil itu tidak boleh tahu apa pun tentang kekacauan emosi yang sedang melanda dirinya. Sean sangat menyayanginya, dan Zara tidak ingin membuat anak itu cemas atau curiga.Setel
Sepuluh menit berlalu, suara gemericik air dari kamar mandi mulai berhenti. Zara buru-buru menyapu air matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degupan dadanya yang masih kacau. Ia tidak boleh terlihat menangis di depan Arham.Pintu kamar mandi terbuka. Arham keluar hanya dengan lilitan handuk putih di pinggangnya. Rambut hitamnya yang basah menyisakan tetesan air yang jatuh menyusuri otot dadanya yang tegap. Pria matang itu terlihat sangat segar dan tampan.Arham berjalan menuju lemari pakaian yang berukuran luas di sudut kamar. Ia mengambil kemeja santai berwarna biru gelap dan celana bahan hitam, lalu mengenakannya dengan santai di depan cermin besar."Gina, kamu mandi sekarang. Biar aku yang turun duluan untuk melihat Sean dan Ibu," ujar Arham seraya mengancingkan kemejanya satu per satu.Zara mengangguk pelan dari atas ranjang. "Iya, Arham. Aku mandi sekarang."Arham menyisir rambut basahnya ke belakang menggunakan jemari tangannya, lalu melangkah mendekati temp
"Kamu nyenyak tidurnya?" tanya Arham lembut sembari mengelus pipi halus Zara dengan ibu jarinya."Iya ... lumayan," jawab Zara singkat. Ia mencoba membalas tatapan Arham, meski dadanya terus bergejolak hebat.Arham tertawa rendah, suara tawanya yang hangat bergetar tepat di depan dada Zara. Tangan Arham yang lain merayap turun di balik selimut, mengusap pinggul ramping Zara yang masih polos tanpa sehelai benang pun."Masih pegal?" goda Arham dengan lirikan mata yang nakal. "Semalam kamu luar biasa, Gina. Aku bahkan tidak tahu kalau kamu bisa seberani itu di atas ranjang."Kata-kata itu kembali menusuk jantung Zara tepat di sasaran. Pengakuan Arham tentang keberaniannya semalam sebenarnya lahir dari keputusasaan Zara yang ingin dicintai sebagai dirinya sendiri, namun Arham justru menganggap itu sebagai bentuk kejutan dari sosok Gina.Zara menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa sakit yang kian menggebu di balik rambut panjangnya yang terurai acak-acakan. "Arham... jangan bahas
"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saa
"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuas
"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer







