LOGINSuga tak menampik bahwasanya monster merupakan wujud lain dari dirinya, atas kekejaman yang ia lakukan sebagai seorang ketua mafia. Namun di khalayak umum, Suga dikenal sebagai seorang geeky CEO, tetapi begitu dingin. Oleh sebab itu, sosok Suga tak cukup digemari.Ketika Ratih tiba-tiba terlibat pertengkaran dengan Suga, wajah Suga yang tampan diketahui oleh wanita tersebut. Demi melindungi identitasnya, Suga terpaksa mengawasi gerak-gerik Ratih yang merupakan bawahannya, sekaligus pembenci dirinya. Ia merekrut wanita itu sebagai sekretaris pribadi.Tak mudah bagi Ratih menjalani kehidupan di di samping Suga dengan tenang. Ia merasa pasang mata selalu mengawasinya. Kebenciannya pada Suga pun semakin membuncah. Namun di sisi lain, Ratih justru tertarik dengan misteri di balik topeng culun milik Suga. Diam-diam ia melakukan pengamatan. Lambat laun Ratih mulai mengetahui keanehan atas diri Suga melalui insiden-insiden mengerikan. Belum lagi perasaannya terus dibuat berdesir oleh paras pria itu. Lantas, apakah Ratih bisa menguak identitas Suga yang sebenarnya? Dan respon apa yang akan Ratih terapkan setelahnya, ketika hati sudah mencintai Suga?
View More"Siapa perempuan ini, Mas?" tanya Syifa saat sang suami baru pulang kerja dan membawa wanita cantik ke rumah mereka.
"Kenalkan ini Sherly, istri baruku," jawab Ryan. Syifa tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dua tahun menikah dengan Ryan ia yakin jika suaminya itu setia dan tak pernah mendua. Ryan adalah suami yang baik dan selalu bersikap romantis padanya, tak pernah sekalipun Ryan membuat Syifa kecewa jadi wanita itu tak percaya jika wanita yang dibawa suaminya adalah istri baru suaminya. "Jangan bercanda dong, Mas. Gak lucu bercanda seperti itu," ucap Syifa seraya menatap wanita cantik bernama Sherly dari atas sampai bawah. "Aku tidak bercanda, Syifa. Dia istri baruku dan akan tinggal bersama kita di rumah ini mulai hari ini," ucap Ryan dengan nada serius. Syifa menegakkan punggungnya, ia kembali menatap Ryan dan Sherly bergantian. Wanita cantik yang dibawa suaminya itu terlihat jauh lebih muda darinya, pakaian yang dikenakan begitu seksi hingga membentuk lekuk tubuh. Jantung Syifa terasa mencelos saat melihat jemari lentik Sherly merayap dan berhasil menggenggam tangan Ryan di hadapannya. "Apa maksud kamu tiba-tiba seperti ini, Mas?" tanya Syifa dengan tatapan berubah nanar kearah Ryan. "Maafkan aku, Syifa. Aku tahu ini berat bagimu, tapi aku melakukan ini semua demi kebaikan kita," ucap Ryan. "Kebaikan seperti apa yang kamu maksud? Kamu menikahi wanita lain tanpa seizinku dan sekarang dengan mudahnya kamu membawa dia untuk tinggal di rumahku?!" ucap Syifa dengan mata berkaca-kaca dan nada mulai meninggi. "Syifa, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Kamu jangan terbawa emosi, kita bisa bicarakan ini baik-baik," ucap Ryan. "Bicara baik-baik kamu bilang, Mas? Bagaimana aku bisa bicara baik-baik saat kamu menyakiti aku dengan membawa jalang ini ke rumahku!" ucap Syifa tambah emosi. Sherly yang sejak tadi menunduk, kini mengangkat wajahnya. Ia tak terima di katakan jalang oleh istri pertama suaminya. Wanita seksi itu pun menatap Syifa yang sudah berlinang air mata dan menjawab ucapan Syifa. "Maaf, Mbak. Aku bukan jalang, aku tahu tidak mudah bagimu menerimaku. Namun, kenyataanya sekarang aku adalah istri dari suamimu," ucap Sherly. "Hanya wanita jalang dan murahan yang mau menjalin hubungan bahkan sampai menikah dengan suami orang!" ucap Syifa. "Syifa cukup! Aku tidak ingin kamu marah seperti ini. Kamu tidak bisa berkata kasar seperti itu pada Sherly, walau bagaimanapun dia istriku sekarang," ucap Ryan. Remuk sudah bahkan hancur tak tersisa hati Syifa, saat sang suami membawa dan mengenalkan Sherly sebagai istri barunya bahkan membentak Syifa seolah membela Sherly. Ryan mengajak Sherly memasuki salah satu kamar dan membiarkan Syifa yang sedang menangis di ruang tamu. "Mas, gimana kalau Mbak Syifa gak mau nerima aku di rumah ini dan berbuat jahat padaku saat kamu tidak ada di rumah?" tahta Sherly. "Kamu tenang aja, aku akan menjelaskan semuanya pada Syifa. Dia pasti menerima kamu meski butuh waktu," ucap Ryan seraya mengelus lembut kepala Sherly. "Bener ya, Mas. Bujuk Mbak Syifa agar mau menerima aku seperti aku menerima dia sebagai istri pertama kamu," ucap Sherly. "Iya aku akan membujuk Syifa. Sekarang kamu istirahat di kamar ini, ya!" ucap Ryan. Sherly mengangguk patuh lalu mengecup bibir Ryan, hal itu membuat Ryan tersenyum dan meraih kembali bibir ranum istri mudanya. Mereka saling menyesap sekejap dan akhirnya Sherly mendorong tubuh Ryan hingga pangutan bibir itu terlepas. Sherly mengingatkan lelaki itu untuk membujuk istri pertama nya. "Katanya mau membujuk Mbak Syifa," ucap Sherly. "Makanya kamu jangan mancing dong, aku suka gak tahan kalau kamu mulai mancing-mancing!" ucap Ryan. "Kan tadi di kontrakan udah aku servis sebelum kita datang kesini, masa masih kurang," ucap Sherly. Ryan terkekeh dan mengacak-acak rambut Sherly, ia begitu menikmati kemesraan dengan istri mudanya di kamar tersebut tanpa memperdulikan perasaan istri pertamanya yang tadi ia tinggal dalam keadaan menangis. Ryan keluar kamar dan mencari keberadaan Syifa di ruang tamu, tetapi wanita itu tidak ada. Ryan akhirnya berjalan menuju kamar dan Syifa ada di kamar sedang menangis, Ryan menghela nafas panjang dan berjalan kearah istri pertamanya. "Syifa," panggil Ryan. "Kenapa kamu melakukan ini padaku, Mas? Bukankah kamu berjanji akan selalu setia padaku, tapi kenapa sekarang kau hadirkan wanita lain dan menghancurkan perasaanku?!" tanya Syifa sambil menangis. "Aku minta maaf, Syifa. Aku tahu ini berat untuk kamu, tapi aku tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Aku menikahi Sherly karena keinginan mama, dua tahun kita menikah tanpa momongan membuat mama memaksaku untuk menikahi Sherly," ucap Ryan. Syifa mengusap air matanya lalu menatap sang suami, mertuanya lagi-lagi yang menjadi ujung tombak rasa sakit yang ia rasakan. Selama menikah dengan Ryan sang mertua memang selalu menunjukan rasa tidak suka nya terhadap Syifa. "Kita baru dua tahun menikah, Mas. Di luar sana ada yang sudah lima tahun bahkan sepuluh tahun menikah belum di beri momongan. Lagipula kita bisa ikut program kehamilan di rumah sakit, kenapa kamu malah mengambil solusi yang membuat hatiku hancur, Mas?" tanya Syifa dengan mata memerah. "Mama bilang dia tidak setuju kita ikut program di rumah sakit karena akan membuang-buang biaya yang tak sedikit," ucap Ryan. "Mama, mama, mama terus yang kamu pikirkan. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan aku, Mas?" tanya Syifa. "Aku mencintaimu sebagai istriku, tapi aku juga tidak ingin menjadi anak durhaka yang melawan mamaku. Aku terpaksa menikahi Sherly demi menuruti keinginan mama, aku pikir tidak akan mengatakan ini padamu dan pernikahan ku dengan Sherly hanya sebentar untuk sekedar menuruti keinginan mama saja. Namun, hal lain terjadi dan membuat aku terpaksa membawa Sherly ke rumah ini dan mengenalkannya padamu," ucap Ryan. "Hal lain apa maksud kamu, Mas?" tanya Syifa. Ryan menarik nafas panjang lalu berjongkok di hadapan Syifa, pria itu menggenggam tangan istri yang sudah dua tahun melayani nya dengan sepenuh hati. Ryan menatap mata Syifa yang kini diliputi rasa sedih dan kecewa, ia berharap wanita cantik nan baik itu mau menerima kedatangan Sherly di tengah rumah tangga mereka setelah ia mengatakan hal itu. "Sherly hamil anakku sekarang, aku tidak bisa membiarkannya tinggal di kontrakan seorang diri, jadi aku mohon terimalah dia di rumah ini, kita rawat bersama anak yang lahir dari rahimnya," ucap Ryan dengan tatapan mengiba. Syifa menutup mulutnya dengan telapak tangan, air mata tak tertahan menetes membasahi pipi, dadanya terasa sesak. Kabar gembira untuk suami dan madunya, tetapi menjadi tombak beracun di hatinya. "Berapa usia kandungannya dan sejak kapan kamu menikah dengan dia, Mas?" tanya Syifa dengan suara bergetar.Pipi Suga sampai memar karena sambaran tangan Daichi Lesmana yang belum lama ini melampiaskan kemarahan cara memberikan tamparan keras. Namun setelah dipukul, Suga masih saja berdiri tegak, mungkin hanya kepalanya saja yang tertunduk. Bukan hanya perkara seorang wanita saja. Hal yang membuat Daichi Lesmana sampai murka, tidak lain dan tidak bukan adalah Suga yang tidak lekas datang ketika diminta untuk pulang, lebih tepatnya menghadap dirinya. Cara Suga yang membangkang, bahkan meski hal itu jarang Suga lakukan, tetaplah membuat Daichi Lesmana tidak terima. "Apa sekarang kamu sudah mulai berani pada Ayah?!" ucap Daichi Lesmana yang belum berkenan untuk menyudahi kekesalannya. "Kamu pikir, usia Ayah yang sudah tua ini, justru mengurangi kekuasaan dan kekuatan yang Ayah miliki, Sugantara? Tidak! Ayah masih bisa membunuhmu kapan saja, atau mungkin sekadar mengganggu kedua adikmu itu!"Mendengar ancaman yang keluar dari mulut sang ayah angkat, Suga lantas menelan saliva. Kedua telapak t
"Aku ingin memintamu turun, tapi ...." Usai berkata demikian, Suga berangsur meraih tangan Ratih. Genggaman erat ia lakukan terhadap lentiknya jari-jemari milik wanita itu. Dan ketika ia menoleh, Ratih malah sibuk menatap ke arah depan. "Kamu masih saja merasa canggung ya? Kenapa? Apa suasana di hubungan kita ini benar-benar membuatmu enggak nyaman, Ratih?"Ratih menelan saliva dengan susah-payah. Nyatanya meskipun jago bela diri, pemberani, serta berharga diri tinggi, ia tetap mati kutu ketika Suga memperlakukan dirinya dengan cara yang berbeda. Belum lagi, status hubungannya dengan Suga yang belum jelas, sejatinya membuat Ratih terus berpikir keras; rasanya tidak pantas jika ia dan Suga sampai berciuman ketika tak ada hubungan spesial apa pun, selain atasan dan bawahan. Namun sekali lagi, ia tidak cukup percaya diri untuk menuntut kejelasan hubungan yang ia pikirkan tersebut. "Saya mau turun sekarang, Pak," ucap Ratih setelah sekian detik mampu menentukan langkahnya. Detik berikutn
Jantung Ratih tak bisa berhenti berdebar, sejak Suga merenggut ciuman pertamanya. Bahkan sekarang, ketika telah kembali ke kantor dan jam kerja sudah hampir selesai, Ratih masih belum bisa merasa lebih tenang. Konsenterasinya terus terganggu dengan bayangan keromantisan itu. Sentuhan bibir Suga seolah masih tersisa di bibir, pipi, hingga kening Ratih. Wajahnya kerap memerah setiap kali ia membayangkan itu semua.“Ugh ... bagaimana bisa aku menjadi orang yang semesum ini sih?” ucap Ratih. Detik berikutnya ia lantas mengutuk dirinya sendiri. “Kalau begini terus, aku enggak akan bisa bekerja dengan baik. Ck ....”Usai mengeluh, seulas senyuman justru tampak tertera di bibir Ratih. “Tapi, tadi ... Pak Suga ... apa dia memiliki banyak pengalaman? Kenapa dia selihai itu? Yah, enggak heran sih. Toh, tampang aslinya memang luar biasa tampan. Wanita mana yang akan menolak pesonanya itu?”“Ah, enggak boleh begini terus. Aku harus bekerja. Dan aku harus menemuinya. Mau enggak mau aku memang haru
"Kenapa malah membawa saya ke apartemen sih, Pak?! Katanya tadi ada kerjaan!" omel Ratih usai dibawa ke apertemen milik atasannya tersebut. Suga tidak menjawab dan justru memasang ekspresi yang cukup datar. Meski kacamata tebalnya belum ia lepaskan, dan poni panjangnya tak ia singkirkan, rona kekesalan terlihat jelas di wajah berpenampilan culunnya tersebut. Sikap Suga tentunya membuat Ratih menjadi heran sekaligus penasaran. Namun untuk kembali mengomel, Ratih sudah tidak berani. Pasalnya, ia sendiri cukup takut dengan apa yang akan Suga lakukan terhadapnya. Terlebih ketika pria itu terus melangkah maju di hadapannya, yang otomatis membuat dirinya terpaksa berjalan mundur. "Aaaakh!" pekik Ratih saat tubuhnya menabrak sebuah meja bundar berukuran lebih kecil daripada meja lain yang juga ada di ruang tamu dari apartemen tersebut. Dengan cepat, Suga menangkap pinggang Ratih, sehingga wanita pemberani itu tak sampai terjatuh. Berkat penyelamatan dadakan yang Suga lakukan, Ratih semak
Saat hari mulai cerah membuat hawa panas kian terasa. Suasana yang menandakan jika pertengahan waktu sudah berangsur tiba. Meeting yang dilaksanakan sudah diakhiri. Para peserta keluar dari ruangan khusus itu, tanpa terkecuali Sugantara dan Ratih Kembang. Keduanya berjalan saling beriringan. Si buru
Ketika mobil yang Suga tumpangi bersama sang sopir dan sekretarisnya sampai di depan gerbang utama perusahaan, suasana ternyata sudah cukup sepi. Padahal, mereka meninggalkan tempat itu belum terhitung lama. Nurma dan Gatra juga tak lagi nampak di sana. Sepertinya mereka sudah berangkat ke tempat ac
Dengan setia Ratih mendampingi Suga di mana pun pria itu berpijak, dan tentu saja untuk urusan pekerjaan. Kendati masih terbilang baru, nyatanya, Ratih sudah mampu mengatasi semua pekerjaan sekaligus kendala beberapa kendala. Dan saat ini ia mencoba untuk tidak memikirkan perihal niat menolak mengen
Ratih hanya bisa menghela napas. Bagaimana tidak, baru pukul enam pagi ia justru harus hadir di sebuah apartemen elit. Selain masih sangat enggan untuk bertemu Suga, ia paling malas untuk bangun lebih pagi. Rasanya sungguh memuakkan, tetapi Ratih tidak bisa berbuat apa-apa. Suga selalu mengancamnya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore