ホーム / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 127. Rencana Pernikahan

共有

127. Rencana Pernikahan

作者: IKYURA
last update 公開日: 2026-08-02 21:57:07

“Jadi… ko udah mantep, nih, nikah lagi sama Mas Megan? Nggak bakalan nyesel lagi?” tanya Carmen.

Hagia tak langsung menjawab.

Tangannya masih sibuk mengaduk plain yogurt di hadapannya. Ia memperhatikan tekstur putih yang perlahan tercampur sebelum akhirnya mengulas senyuman kecil.

“Anak gue memang butuh seorang ayah, Men.” Carmen mengangguk pelan. “Tapi bukan karena kehamilan gue yang jadi alasan.” Hagia meletakkan sendoknya. “Kalau boleh jujur... gue masih mencintainya.”

Carmen langsung mende
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (4)
goodnovel comment avatar
A mum to be
Uhh manis banget si kalian
goodnovel comment avatar
Widi fajar sari
aaghhh loop bgt daahhh
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
heeeyyyy gk sabar nih buat kondangan..
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Mantan!   128. Selalu, Selamanya

    “Dia sengaja bikin kamu hamil supaya kamu mau balikan sama dia, kan?” Suara Auriga seketika menarik perhatian Hagia yang tengah menyesap tehnya. Ia menurunkan cangkirnya dengan hati-hati, kemudian tersenyum kecil.“Pa…”“Papa serius, Hagia…”Sore itu Hagia sengaja datang menjenguk Auriga ke kediaman keluarga. Meskipun Dokter Trenggana mengatakan bahwa keadaan Auriga telah membaik, namun tetap saja, Hagia tidak tenang jika belum memastikan keadaan sang ayah.“Papa masih ragu sama Mas Megan, ya?”Auriga menarik napas pendek. “Setelah apa yang terjadi sama kamu, kamu pikir Papa bakal rela melepaskan kamu begitu saja?”Hagia terdiam. Wajahnya tertunduk, menatap kedua tangannya yang bertautan di pangkuan. Lalu, “Aku ngerti kalau Papa khawatir sama aku. Aku juga tahu kalau Papa takut kalau aku akan terluka untuk kedua kalinya. Tapi, Pa, kali ini saja, tolong berikan kesempatan buat Mas Megan untuk menebus semuanya.”Auriga masih diam.Hagia menarik napas panjang. “Apa yang terjadi di masa

  • Hello, Mantan!   127. Rencana Pernikahan

    “Jadi… ko udah mantep, nih, nikah lagi sama Mas Megan? Nggak bakalan nyesel lagi?” tanya Carmen. Hagia tak langsung menjawab.Tangannya masih sibuk mengaduk plain yogurt di hadapannya. Ia memperhatikan tekstur putih yang perlahan tercampur sebelum akhirnya mengulas senyuman kecil.“Anak gue memang butuh seorang ayah, Men.” Carmen mengangguk pelan. “Tapi bukan karena kehamilan gue yang jadi alasan.” Hagia meletakkan sendoknya. “Kalau boleh jujur... gue masih mencintainya.”Carmen langsung mendengkus. “Kan memang dari dulu lo masih cinta sama Mas Megan. Lo aja yang selalu denial.”Hagia terkekeh kecil. “Ya... mungkin.”“Bukan mungkin. Emang iya!” cibir Carmen.Hagia hanya menggeleng, lalu kembali menyendok yogurt ke mulutnya. Carmen memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali bertanya.“Terus... nyokap Mas Megan gimana?”Hagia terdiam.“Lo yakin nggak bakalan ada sesuatu yang buruk?”Kening Hagia mengernyit. “Misalnya?”Carmen mengedikkan bahu. “Si nenek sihir itu ngamuk di KUA pas

  • Hello, Mantan!   126. Cemburu Lagi

    Elvira masih terdiam. Raut wajahnya yang semula tenang mendadak berubah. Ada keterkaitan yang terlihat jelas di matanya, seolah kalimat Megantara barusan adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga.Megantara menatapnya lekat.Lalu, “Aku serius, Mas. Kamu yakin bakalan begini terus sama Mama. Kondisi kesehatannya menurun dan kamu—”“Begini gimana maksud kamu, El?” Nada suara Megantara terdengar datar. “Kalau kamu ngajak ketemu aku cuma buat ngebujuk aku supaya ninggalin Nadi, lebih baik jangan.” Ia menyandarkan punggungnya ke belakang. “Mau Mama merestui atau nggak, itu nggak akan membuatku mundur.” Megantara menghela napas pendek. “Nadi hamil sekarang.”Kalimat itu membuat ekspresi Elvira seketika berubah. Megantara tetap melanjutkan. “Dan aku bakalan menikahinya dalam waktu dekat ini.”Elvira menatap Megantara tanpa berkedip. “Hamil?”Megantara menganggukkan kepala. “Iya.”Untuk beberapa saat, Elvira tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya perlahan turun, kemudian kembali mena

  • Hello, Mantan!   125. Ajakan Moreno

    “Kamu yakin bakalan baik-baik saja?” tanya Megantara.Lelaki itu menoleh ke samping. Raut wajahnya terlihat khawatir. “Aku cuma bentar, sih. Cuma kalau—”“Aku baik-baik saja, Mas,” sela Hagia dengan cepat. “Aku udah nggak ngerasa mual kayak pagi tadi, kok. Sekarang udah mendingan.”Megantara masih terlihat ragu. Tatapannya menelusuri wajah Hagia seolah memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja.“Telepon aku kalau kamu kenapa-napa. Oke?”Hagia tersenyum. “Iya.”Setelahnya, Hagia mendekat, mengecup bibir Megantara lembut. Kemudian ia beranjak turun.Mobil Megantara perlahan meninggalkan area depan sekolah, sementara Hagia masih berdiri beberapa saat di tempatnya, memperhatikan mobil itu sampai menghilang di balik gerbang.Terhitung sudah sebulan ini Hagia berhenti bekerja. Dan sedikit banyaknya, ia bersyukur karena sekarang bisa lebih fokus dengan Ranu.Tidak lagi terburu-buru mengejar waktu pulang kantor, tidak lagi harus membagi perhatian antara pekerjaan dan putranya. Meski

  • Hello, Mantan!   124. Rencana Megantara

    “Jadi pengangguran kayaknya bikin Lo happy, ya?”Suara celetukan Kafka membuat Megantara yang baru saja datang langsung terkekeh. Lelaki itu menarik kursi kosong di samping Kafka, kemudian duduk dengan santai.“Kayaknya gue mesti nyoba jadi pengangguran juga, deh,” sahut Kafka lagi.“Yang ada lo pusing, Ka.” Megantara mendecak pelan. Tak lama kemudian, seorang barista datang menghampiri. Megantara langsung memesan secangkir kopi sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Kafka.“Udah sempat jenguk nyokap lo?” tanya Kafka sembari menyesap kopinya.Megantara terdiam sejenak. “Mm.” Ia menarik napas pendek. “Beberapa hari yang lalu gue ke sana.”“Terus?”“Ya...” Megantara bersandar pada kursinya. “Mau separah apa sakitnya, dia masih saja terlihat arogan.”Kafka terkekeh. “Nyokap lo sakit, Gan. At least lo udah jenguk dia, sih. Nggak ada huru-hara diantara kalian, kan?”Megantara menoleh. “Huru-hara apa, sih?”Kafka mengangkat kedua tangannya. “Ya mana tahu ada kejadian apa gitu, kan? G

  • Hello, Mantan!   123. Meminta Restu

    “Kalau menurut jadwal terakhir Bu Hagia menstruasi, usia kandungan Ibu saat ini sekitar tujuh Minggu,” ujar Dokter Inggit. Hagia menggigit bibirnya bagian dalam.Tujuh minggu. Entah kenapa, mendengar angka itu membuat dadanya terasa sesak oleh haru.Dokter Inggit kembali menggerakkan transduser di atas perut Hagia. Tatapannya sesekali beralih pada layar monitor di sampingnya.“Perkembangan janinnya juga baik.”Mata Hagia seketika berkaca-kaca. Ia menatap layar di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Setelah sekian tahun tidak lagi merasakan jantungnya berdebar seperti ini, kali ini Tuhan kembali memberinya kesempatan untuk merasakan hal yang sama.Ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya. Sesuatu yang bahkan beberapa hari lalu belum pernah ia bayangkan.Hagia menoleh ke samping. “Mas...”Megantara yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung meraih tangannya. “Iya, Sayang?”Hagia menelan ludahnya dengan susah payah. Jemarinya menggenggam tangan Megantara lebih erat.Megan

  • Hello, Mantan!   4. Hari Pertama Bekerja

    Megantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.Perhatiannya tertuju lurus ke depan.Arsenio berdiri di dekat layar proyekto

  • Hello, Mantan!   3. Kemarahan Hagia

    “Gi, mau ke mana?”Hagia yang sudah berdiri sambil merapikan map di tangannya menoleh sekilas. Sinta bersandar di sandaran kursinya, memutar badan setengah menghadap Hagia dengan ekspresi penasaran yang tidak ditutup-tutupi.“Mau nganterin berkas proyek Cilandak ke Pak Megantara, Sin.”Alis Sinta l

  • Hello, Mantan!   2. Megantara Adiwangsa

    Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.Baru be

  • Hello, Mantan!   1. Hagia Nadi Chandrakanta

    Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, seme

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status