/ Romansa / Hello, Nanny! / 81. Si Sempurna

공유

81. Si Sempurna

last update 게시일: 2026-03-30 23:48:30
“Maaf.”

Itu kata pertama yang Reyga ucapkan begitu berhadapan langsung dengan Kalla lagi. Dia lantas bergerak pelan, duduk di sisi wanita itu.

“Aku tadi nggak bermaksud bicara kasar atau apapun. Aku cuma—”

“Cemburu?”

Kali ini Reyga tidak mengelak. Dia mengangguk. “Ya, aku cemburu.” Lelaki itu memejamkan mata sebentar, sebelum meraih tangan Kalla. “Aku nggak mau kita ribut. Maaf ya.”

Bahu Kalla naik seiring helaan napasnya yang keluar. “Maaf juga. Aku juga salah. Nggak seharusnya aku minta tol
Yuli F. Riyadi

Yang baca bab ini, wajib komen. Sebab aku nulisnya sambil terkantuk-kantuk. 🥱🥺 Demi bisa up 3 bab

| 36
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (15)
goodnovel comment avatar
rieke
heheheee lanjut.........
goodnovel comment avatar
Indah Haryati
Thanks gaysss......, semangat
goodnovel comment avatar
Aishwarya Millana Maheswari
makasi sdh tripel update kakak, semoga sehat selalu......
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Hello, Nanny!   S2.37. Tak Bersinar Lagi

    Mengurut pinggangnya yang sakit, Kael beranjak bangun. Dia ingin marah, tapi yang jadi sasaran malah kabur lebih dulu. Dan si pembawa berita kedatangan Vianna pun entah ngilang ke mana. “Kembaaaar!” seru Kael memanggil dua adiknya. Entah Kaia atau Lior. Suara mereka sama, jadi Kael meneriaki keduanya. Namun bukan si kembar yang muncul di ruang keluarga, melainkan Vianna. Gadis itu ternyata benar-benar datang. Hanya saja—“Kael!” Tubuh Kael agak terhuyung ke belakang ketika tiba-tiba Vianna memeluknya. Bukan pelukan bahagia karena bertemu Kael lagi setelah berminggu-minggu, tapi pelukan kesedihan. Karena sesaat setelah memeluk laki-laki itu, tangis Vianna pecah. Gadis itu bahkan meraung seolah tengah menahan luka yang begitu dalam. Kael yang tidak tahu apa-apa tertegun di tempat. “V-Vi—”Laki-laki itu kebingungan. Menghadapi dua adiknya yang menangis itu sudah biasa, tapi tidak dengan seorang perempuan yang menangis pilu seperti ini. Es krim atau permen cokelat kayaknya nggak cuku

  • Hello, Nanny!   S2.36. Puisi Cinta

    Rindu sakit Hati sakit Kalau tidak ingin sakit Jangan merindu Jangan menaruh hati … Kael memasang wajah jijik membaca tulisannya sendiri. Dia mengacak rambut frustasi. Sudah satu jam, tapi tugas membuat puisi belum juga selesai. “Ngapain repot, kan tinggal tanya AI, beres.” Itu usul sesat Jaya kemarin saat Kael menanyakan tugas bahasa Indonesia membuat puisi bertemakan cinta. Gimana bisa nulis cinta, kalau jatuh cinta saja Kael belum tahu gimana rasanya?“Nggak boleh pake AI, Njir. Lo kan tau Pak Roni kek apa.” “Ah gue mah tetep mau pake AI. Bodo amat sama nilai.” “Siap-siap jadi bulan-bulanan di depan kelas kalau gitu.” Kael mencoret tulisannya di kertas. Lalu kembali menulis ulang. Bagaimana cara membuat kata-kata yang selaras, tidak lebay, dan tidak aneh? Sumpah ya. Satu di antara kelemahannya adalah pelajaran mengarang, menulis cerpen atau sejenis. Puisi mungkin hanya beberapa bait, tapi demi apapun sulitnya selangit. Saking konsennya membuat bait, Kael tidak sadar Rere

  • Hello, Nanny!   S2.35. Kabar Vianna

    “Gimana menurut Lo?” Jaya menunjukkan pekerjaannya pada Kael. Sejenak laptopnya pun berpindah ke tangan Kael. “Belum final. Jadi harus lo lihat udah sesuai belum?” Kael memperhatikan dengan seksama pekerjaan Jaya. Dia bahkan mengecek tools dan algoritma yang temannya itu pakai. Tidak berapa lama sudut bibirnya berkedut. “Kemampuan lo di JavaScript kayaknya naik pesat. Lanjutkan,” komen Kael sebelum mengembalikan laptop itu ke Jaya. Kontras saat dirinya mengomel satu jam lalu, sekarang Jaya bisa menyunggingkan senyum lebar. “Pasti dong. Kan terus dilatih. Dan proyek-proyek yang lo kasih ini bikin skill gue tiap hari nambah.” “Gue bisa ajuin lo ikut Coding Bootcamp Le Wagon kalau lo mau.” “Heh, serius?” “Ya. Om Cade biasanya ngirim salah satu pelajar terbaik yang punya potensi kayak lo.” “Jelas gue maulah. Kapan lagi gue bisa ikut berkumpul dengan para programer hebat?” Belum apa-apa Jaya sudah membayangkan keseruan itu. Pengalaman, sharing ilmu, dan mental akan terlatih d

  • Hello, Nanny!   S2.34. Meronce

    “Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.” Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.” Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.” Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?” “Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.” Itu ide yang Rere maksud. Selain

  • Hello, Nanny!   S2.33. Bazar

    Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang

  • Hello, Nanny!   S2.32. Pekan Olahraga (3)

    “Ini acara pekan olahraga apa lomba 17-an?” Kael menatap sarung yang diberikan panitia. Itu adalah sarung yang akan dia dan Rere gunakan sebagai perlengkapan lomba balap sarung berpasangan. “Sama aja, kan? Anggap aja kita lagi lomba lari. Lari kan masuk olahraga,” sahut Rere. Jika Kael terlihat keberatan satu sarung berdua dengannya, dia biasa saja. Hanya untuk meramaikan apa salahnya berpartisipasi?“Beda dong, Re. Kita bakal—” Kael spontan berhenti bicara saat merasa kata-kata yang akan dia keluarkan mungkin bisa terdengar aneh. “Bakal apa?” tanya Rere mengangkat alis, menatap pemuda itu yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Gadis itu menarik napas panjang, mendekati lelah. Dia merebut sarung dari tangan Kael. “Udah deh, tinggal lakuin aja biar cepet selesai.”Sementara panitia sudah meminta para orangtua yang ikut lomba mengenakan sarung itu secara bersama. Kael agak kesal lantaran Rere terlihat baik-baik saja sementara dirinya gusar sendirian. Harusnya tidak begini. Serius g

  • Hello, Nanny!   11. Dada Kecil

    Bagaimana Reyga tidak mendidih ketika kembali ke apartemen dan melihat kekacauan di sana? Begitu membuka pintu dia langsung disuguhi pemandangan yang 'menakjubkan'. Bungkus camilan berserakan di atas meja, sofa dan juga karpet. Belum gelas bekas minum yang mengembun sehingga membentuk lingkaran tip

  • Hello, Nanny!   10. Sudah Jatuh, Ketimpa Tangga

    Kalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk dari Reyga 'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'Secara otomatis Kalla menarik

  • Hello, Nanny!   9. Hello, Nanny!

    Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk boc

  • Hello, Nanny!   8. Beautiful Nanny!

    Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status