Share

Program Kehamilan

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 10:14:08

Keesokan paginya, suasana kamar sudah berganti terang. Juned berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemeja kasualnya dan memastikan penampilannya sudah rapi serta siap untuk pergi menemui Desi sesuai janji mereka jam 9 nanti.

Saat melangkah turun ke lantai bawah menuju pintu keluar, langkah Juned terhenti ketika melewati area ruang makan. "Ned, kamu gak sarapan dulu?" tanya Ratna yang saat itu sedang menikmati sarapan paginya di meja makan bersama dengan Maudy.

Juned menoleh, membetulkan leta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Rejeki

    Caca sontak terkejut setengah mati, bola matanya melebar sempurna menatap tak percaya ke arah gadis muda di depannya. ​"Ca-calon istri?!" cetus Caca terbata-bata, napasnya seolah tertahan saat mengalihkan pandangan penuh tuntutan ke wajah Juned. ​Puk! ​Juned tanpa ragu memukul pelan puncak kepala Nayla menggunakan gulungan map berkas tebal di tangannya. ​"Jangan ngaco kamu, jangan dengerin dia ya, Ca," tegur Juned cepat-cepat, berusaha menetralkan suasana yang mendadak sangar. ​Pria itu mengusap tengkuknya yang mendadak merinding, melempar senyum canggung untuk menenangkan asistennya. ​"Dia ini adik saya, emang anaknya suka ngelindur kalau ngomong," potong Juned meyakinkan Caca. ​Juned lantas memutar tubuhnya, menatap tajam ke arah Nayla seraya memasang wajah pura-pura galak. ​"Kamu tuh ya, jangan usil dan aneh-aneh sama asisten Mas!" gertak Juned menunjuk muka adik iparnya itu. ​"Ih, Mas! Sakit tau!" seru Nayla meringis cemberut, mengusap-usap kepalanya seraya memayunkan bib

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Calon Istri?

    "Iya, iya... Nanti kita atur. Sekarang kamu mending istirahat aja dulu selama di jalan," ujar Juned sambil terkekeh pelan. "Biar Mas fokus bawa mobilnya, jangan bikin konsentrasi pecah," tambahnya seraya membetulkan posisi duduk. Bukannya menuruti perintah, Nayla justru makin mengikis jarak duduk mereka di barisan depan. Ia menggeser tubuhnya mendekati Juned, lalu menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu kiri pria itu. "Gak mau ah, mau gini aja meluk lengan Mas..." bisik Nayla pelan seraya melingkarkan kedua tangannya di lengan kiri Juned. Sentuhan lembut dan kehangatan tubuh Nayla yang menempel erat seketika membuat napas Juned agak tertahan. "Aduh, Nay... Ini Mas lagi nyetir lho, entar oleh mobilnya," gumam Juned pelan, tapi sama sekali tidak menarik lengannya. Nayla malah mendongak, menatap Juned dari bawah dengan matanya yang bulat lugu dan senyum tipis menggodanya. "Biarin, biarkan gini sebentar... Kan kangen sama Mas," sahut Nayla makin manja seraya makin mengencangka

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kembali ke Kota

    "Gak tahu, Des... Seingat Mas, Mas emang gak ada ngabarin Sinta kalau hari ini gak masuk kantor hari ini," sahut Juned santai. Pria itu melangkah mendekat, lalu mengambil kemeja yang sudah tertata rapi di atas ranjang. Desi menggeser layar ponsel, lantas menyerahkannya langsung ke jemari suaminya. "Coba telepon balik aja dulu, Mas... takutnya ada urusan kantor yang mendesak atau penting." Juned menerima ponsel tersebut, jempolnya bergerak cepat menekan tombol panggil ulang. Ia menempelkan benda tipis itu ke telinga, menanti nada sambung yang berdering beberapa kali. "Halo, Sin? Kenapa? Ada apa nelpon pagi-pagi?" tanya Juned santai. "Aduh, Mas Juned di mana sih?!" cecar Sinta bertubi-tubi dari balik telepon dengan nada panik. "Kok jam segini belum kelihatan di kantor? Ini dokumen di meja Mas juga belum ditandatangani!" sambung sekretarisnya itu. Juned menghela napas panjang, mengusap sisa butiran air di lehernya menggunakan ujung handuk. "Mas lagi pulang dulu sebentar ke rumah,

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kenikmatan Yang Menegangkan

    Nayla dengan cepat menempelkan satu jari telunjuknya di depan bibir Juned seraya menatapnya tajam. "Diem, Mas..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar. Juned membeku di tempat, mematung dengan jantung yang berdegup kencang di balik dadanya. "Iya, Bu... bentar, aku mules banget ini..." sahut Nayla sedikit mengeraskan suara, berpura-pura meringis di balik pintu. Dari luar, suara Ibu terdengar mereda. "Oh, ya udah. Ibu mau ke pasar sekalian ke warung Mbok Nem dulu, mau pesan nasi uduk buat sarapan Mas-mu sekalian Mbak-mu juga." "Iya, Bu... aku juga ya, mau..." balas Nayla cepat seraya melirik Juned dengan senyum nakal. "Ya udah, nanti jam setengah enam bangunin Mbak-mu, ya." "Iya, Bu..." sahut Nayla mantap. Langkah kaki Ibu perlahan terdengar menjauh meninggalkan area depan kamar mandi, meninggalkan Juned yang akhirnya bisa bernapas lega walau ketegangan di antara mereka berdua justru makin terasa."Udah, sana keluar, Nay," bisik Juned cepat, tangannya memegang bahu Nayla.

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kegilaan Di Pagi Hari

    Suara jangkrik di luar mulai surut digantikan sepoi angin dingin menjelang fajar. Juned tersentak pelan dari tidurnya, merasakan sensasi hangat, basah, dan geli yang mendesak di area bawah perutnya. Juned mengangkat kepalanya sedikit dari bantal, melongok ke bawah selimut. Di sana, Desi tampak sibuk menunduk, mengulum penuh kehangatan kejantanan sang suami yang sudah memegang teguh. "Ngapain, Des? Udah jam berapa ini?" gumam Juned dengan suara serak khas bangun tidur, mengusap matanya yang masih berat. Desi mendongak perlahan, melepaskan sejenak gejolak di bibirnya seraya menatap Juned dengan binar mata sayu nan manja. "Masih jam empat subuh, Mas..." bisik Desi lembut, menyapu bibirnya yang basah. "Aku udah lama banget enggak main sama punya kamu yang ini, Mas..." Juned tak bisa menahan senyum tipisnya. Tangan prianya merayap lembut ke kepala Desi, jemarinya menyelusup di antara helai rambut sang istri, lalu perlahan mengarahkan dan membantu gerakan kepala Desi maju mundur menikm

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pelepas Rindu

    Juned mengelus pelan lengan Desi yang masih menyandar di bahunya, menikmati sepoi angin malam yang makin dingin bertiup di teras. "Gimana kandungan kamu, Des? Kan udah jalan sebulan nih..." tanya Juned lembut, mengusap bahu istrinya dengan penuh perhatian. "Ada ngerasa keluhan apa gitu enggak? Mual, pusing, atau ngidam apa gitu?" Desi mendongak sedikit, menatap wajah Juned dari samping seraya menyunggingkan senyum tipis. "Ya namanya juga baru sebulan, Mas... belum terlalu terasa aneh-aneh banget kok. Belum ada mual yang parah juga." Pria itu memiringkan tubuhnya, menatap penuh rasa penasaran. "Beneran enggak ada yang dirasain sama sekali?" "Enggak ada, cuma ya... entah kenapa belakangan ini bawaannya suka malas banget aja ngapa-ngapain," sahut Desi pelan, mengerucutkan bibirnya manja. "Mau gerak dikit aja rasanya mager banget." Juned seketika terkekeh pelan, melirik gemas ke arah sang istri yang tampak bersandar pasrah. "Yee... itu mah emang dasarnya kamunya aja yang malas d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status