MasukPesta pernikahan Kadrun dan Siti Majenun pun digelar di kampung. Alasannya karena Siti tidak lagi punya keluarga dan atas permintaan Mak Kadrun. Meriah sekali pesta kondangan yang digelar keluarga Kadrun. Sebagai petani yang punya banyak kebun sawit dan anak buah, tentu pesta yang digelar toke tidak biasa-biasa saja. Apalagi sang toke hanya punya satu-satunya anak, maka orang tua Kadrun tidak mau tanggung-tanggung.
Bagi Mak Kadrun, semenjak Kadrun menyelesaikan kuliah di Pulau Jawa dan berhasil menyandang gelar Sarjana Batik dan Fashion lalu menjadi seniman batik Jambi yang namanya cukup harum di tingkatan lokal serta didampuk menjadi abdi negara di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi, hal itu menjadi sebuah garis nasib yang sangat disyukuri Mak Kadrun. Betapa bangga Mak dan Bapak Kadrun atas diri anaknya. Walaupun mereka pada awalnya cemas dan sering menyalahkan diri sendiri karena terlalu memanjakan Kadrun dan merasa merusak hidup Kadrun. Bagaimana tidak, kehidupan muda Kadrun penuh dengan kekacauan, dia suka bolos sekolah, tawuran, mencelakai orang dan tinggal kelas. Setelah menamatkan SMA, Kadrun menganggur dan bergabung dengan komplotan preman pasar kampung. Mak dan Bapak Kadrun pasrah pada keadaan hingga di usia tiga puluh tahun tanpa sebab yang jelas Kadrun menemui keduanya untuk minta izin mendaftar di sekolah seni di Pulau Jawa. Mak dan Bapak Kadrun langsung sujud syukur. Keduanya cepat mengiyakan dan ikut mengantar Kadrun berangkat sekolah. Walaupun berkali-kali Kadrun melarang sebab usianya sudah tiga puluh tahun. Namun Mak dan Bapak Kadrun tetap bersikeras. Sekarang kebanggaan itu semakin dilengkapi Kadrun dengan menikahi Siti Majenun.
Pesta penikahan di kampung sudah selesai digelar. Kadrun dan Siti Majenun berniat kembali ke kota. Banyak bekal berupa hasil bumi dari kampung yang disiapkan Mak dan Bapak Kadrun untuk keduanya. Sekarung jagung, sekarung kentang, sekarung bawang merah dan bawang putih, sekarung cabai merah dan dua karung beras ditumpuk di atas travel yang dipakai mereka menuju ke Jambi.
“Tidak usah bekerja dulu, Siti. Istirahat saja di rumah. Biar kalian cepat punya anak.” Mak berpesan pada menantunya.
“Iya, Mak.” Siti mengangguk tersenyum lalu mencium tangan mertuanya.
“Nanti kalau nak apa-apa minta sama Kadrun. Kalau dia tidak menuruti, kasih tahu Mak dan Bapak. Biar kami datang ke Jambi untuk menjewer kupingnya.”
“Apa lah Mak nih.” Kadrun menimpali sedikit kesal.
“Kalau dia manja dimaklumi saja ya, Siti. Dia ini satu-satunya anak kami, jadi dia lebih sering dimanjakan daripada diajari jadi orang benar.” Mak menambahkan tanpa menimbang perasaan Kadrun.
“Lah, kalau awak dak benar, pasti sudah kacau hidup awak nih, Mak.” Kadrun kembali mengajukan protes.
“Memang kaupikir hidup kau selama ini dak kacau? Untung saja masih ada perempuan macam Siti yang mau menerima jantan kurus kering sepertimu yang hidupnya tidak tentu arah.”
Kadrun mencibir.
“Jadi, Kadrun, jangan kau sia-siakan Siti. Kau urus Siti baik-baik. Kalau kau lalai, Mak yang turun tangan menghabisimu!”
“Iya lah, Mak.” Kadrun mencium tangan Mak dan Bapak. Setelah itu, si lelaki kurus tersebut mengangkat koper mereka satu per satu memasuki mobil travel, sementara supir travel mengikat bawaan mereka yang lain di atas mobil. Setelah supir selesai mengamankan barang, kedua pengantin baru tersebut masuk ke dalam mobil dan supir segera membawa mobil melaju kembali ke Kota Jambi. Lambaian Mak dan Bapak masih terekam jelas di mata Kadrun. Kadrun tersenyum bangga menggengam tangan isterinya. Kadrun merasa hutang salah pada Mak dan Bapak sudah dia bayar kontan.
Sepulang dari kampung, Kadrun mengajak Siti Majenun ke kontrakan lamanya yang berada di gang sempit. Sebuah sepeda motor bebek yang biasa dipakai Kadrun ke kantor masih terparkir di luar rumah seperti kondisi awal ditinggal Kadrun. Beberapa ember tampak sengaja di taruh di teras untuk menampung hujan yang menetes dari langit-langit rumah yang bocor. Warna tiang yang hijau tua dan dinding rumah yang hijau muda terkikis usia, beberapa lumut nampak bertengger di dinding. Siti memandangi fasad kontrakan Kadrun setengah tertegun.
“Ayo, masuk.” Kadrun mengundang isterinya setelah berhasil membuka gembok pintu rumah.
Siti melangkah hati-hati memasuki kontrakan karena ada palang melintang di pintu masuk rumah. Langit-langit di dalam rumah hanya setinggi dua meter dengan cat yang sudah luntur dan terkelupas seperti halnya tampilan di luar. Siti memilih duduk di satu-satunya sofa di ruangan itu. Warnanya coklat pudar dengan beberapa bagian yang sudah sobek dan terdapat beberapa bekas sundutan rokok. Di depan sofa terpampang meja dan sebuah televisi ukuran 20 inci yang tergantung di dinding.
“Kalau mau nonton cari saja remote-nya di dalam laci meja.” Kadrun memberitahu sambil lalu kepada Siti, sementara dia sibuk membawa koper-koper mereka ke dalam kamar. Mobil travel yang tadi mereka tumpangi tidak bisa masuk ke gang kontrakan, oleh sebab itu buah tangan yang dibekali Mak dan Bapak dari kampung seperti jagung, kentang, beras, cabai, dan bawang dititip Kadrun di bengkel Bang Somad tempat mobil travel berhenti.
Siti tampak kurang sehat, perempuan itu berjalan setengah menyeret badannya memasuki mulut gang. Dia sudah habis-habisan mengeluarkan seluruh isi perutnya selama perjalanan. Siti tidak sanggup dengan aroma transportasi umum yang berisi orang-orang membawa ayam, bawang dan barang-barang lain yang memenuhi kendaraan dan mengurangi masuknya oksigen, sementara bau keringat mereka bergabung di dalam mobil van kecil tersebut yang Air Conditioner-nya tidak menyala dengan baik. Siti kesal dengan sikap Kadrun yang menolak keras mobil baru yang dihadiahkan kedua orangtuanya dengan alasan tidak punya tempat parkir di kontrakan rumahnya.
Siti merebahkan tubuh sejenak di sofa, tapi dia tidak menemukan kenyamanan di atas sofa tersebut. Dia kemudian kembali duduk dan membuka laci dengan niat mencari remote televisi.
“Aaah,…!!!” Siti terlonjak kaget dengan wajah yang semakin pucat.
Kadrun yang baru memasuki kamar terburu-buru keluar menuju sumber teriakan.
“Ada apa, Sayang?” tanya Kadrun cemas.
“kecoa! Ada kecoa di laci itu!” Siti menunjuk-nunjuk laci meja di depan sofa.
“Oh, itu. Biasa lah kalau di sini.” Kadrun menimpali dengan tersenyum.
“Biasa? Aku tidak suka kecoa, Kadrun!” teriak Siti mengagetkan Kadrun.
Kadrun langsung memandang Siti dengan tatapan bingung. Apalagi Siti barusan hanya memanggil namanya begitu saja. Tidak seperti biasanya.
“Oh, maaf. Nanti sama-sama kita bersihkan. Maklumlah ini kan dulu rumah bujangan, jadi berhubung sekarang sudah bukan rumah bujang lagi, Sayang Siti pasti bisa membantu Abang Kadrun untuk membersihkan rumah kita ini. Biar kita sama-sama betah.”
“Aku ini punya penyakit alergi debu. Aku bisa sesak napas kalau kebanyakan menghisap debu. Makanya aku tidak pernah beres-beres rumah. Apalagi disuruh masak, bisa-bisa kuku ini patah. Kulit ini kena percikan minyak panas. Belum lagi kalau jariku kena potong pisau dapur. Terus disuruh pula aku mencuci baju. Aduh, aduh, aku menikah bukan untuk jadi babu,…” Siti mulai menangis. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya rapat-rapat.
Kadrun makin terkejut. Pelan-pelan dia memegang kedua tangan Siti berusaha menurunkannya dari wajah. Wajah di balik tangan itu benar-benar basah dengan airmata.
“Maaf ya, Sayang. Aku tidak tahu kalau,” Kadrun jadi merasa bersalah.
“Mak dan Bapak di kampung punya banyak pembantu. Rumahnya besar walaupun di kampung. Kebunnya luas dan uangnya banyak. Tapi kenapa rumahmu bisa seperti ini? Bukannya kau anak tunggal? Kenapa mereka tega membiarkanmu tinggal di kontrakan?”
“Bukan salah Mak dan Bapak aku tinggal di sini. Ini kemauanku sendiri. Tidak ada hubungannya dengan mereka!” Kadrun sedikit berang karena Mak dan Bapak dibawa-bawa.
“Kenapa tidak, memangnya mereka punya banyak harta untuk siapa? Pasti untuk anaknya. Sementara kau adalah satu-satunya anak mereka.”
“Kau ini,…”
“Terus teganya kau ingin menjadikan aku babu. Bukannya aku ini istrimu?” isak tangis Siti semakin menjadi.
Kadrun jadi urung melontarkan amarahnya, hatinya luluh karena rasa salah. “Aku minta maaf, Sayang. Aku tidak pernah ingin menjadikanmu pembantu.”
“Kalau begitu, kenapa tidak ada pembantu di rumah ini?”
Kadrun bingung memberikan jawaban.
“Aku butuh asisten rumah tangga untuk membantuku membereskan rumah, memasak, mencuci,”
Kadrun tetap diam.
“Apakah permintaanku terlalu banyak?” Siti segera meraih tangan Kadrun dan menggenggamnya dengan erat.
Kadrun otomatis menggeleng sambil menelan ludah, “Oh, tidak. Tentu tidak.”
“Berarti kau akan menyediakan asisten rumah tangga untukku?”
Kadrun mengangguk.
“Kapan?”
“Secepatnya.” Kadrun menjawab sekenanya.
Siti kembali menangis.
“Iya, Sayang. Aku janji. Tapi Sayang, boleh aku tanya kenapa pula kita harus butuh pembantu? Kita masih berdua, tenaga kita masih cukup untuk mengurus rumah sekecil ini.”
Tangis Siti makin kencang.
“Aku tidak bisa melakukan semuanya sendiri, Drun!”
“Kan ada aku.”
“Bukannya kau harus bekerja?”
“Tapi kan katamu kau bukan tipe orang yang mudah menyerah. Setiap masalah pasti sudah disiapkan Tuhan jalan keluarnya.”
“Iya, benar. Dan jalan keluar untuk masalah kita saat ini adalah mencari asisten rumah tangga.”
Kadrun melongo.
Rumah kontrakan itu gelap meski matahari sudah meninggi.Beberapa gelas kopi masih tergeletak di lantai. Baju-baju kotor menumpuk di sudut ruang tamu. Tirai jendela tertutup rapat hingga udara di dalam rumah terasa pengap.Sudah lima hari Kadrun tidak ke kantor.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban.Tok! Tok! Tok!"Drun!"Masih sunyi.Brewok mengembuskan napas panjang. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang pernah diberikan Kadrun bertahun-tahun lalu."Kalau nanti kau marah, marah saja," gerutunya.Kunci diputar.Klik.Pintu terbuka.Brewok langsung menutup hidung."Ya Allah... rumah apa kandang kambing?"Di sofa tua, Kadrun baru bangun dari tidurnya sambil mengucek mata. Janggutnya mulai tumbuh tidak beraturan. Tatapannya kosong menghadap televisi yang bahkan tidak menyala."Heh."Brewok melempar bungkusan nasi ke pangkuannya."Makan, jok!”Brewok melihat sekeliling. “Kemana Beuti? Kau pecat?”Kadrun menggeleng. “Dia pulang kampung, terkait urusannya kawin dengang Bang Somad.”“Jadi, sekara
Siti berdiri cukup lama di depan tempat karaoke milik Jay. Beberapa kali dia berniat masuk, tetapi langkahnya selalu terhenti sebelum mencapai pintu. Rasa malu menahan kedua kakinya.Dahulu dia datang ke tempat itu dengan pakaian mahal, tas bermerek, dan tubuh penuh wangi parfum. Sekarang dia hanya mengenakan baju longgar yang dibelinya di pasar, sandal datar, serta membawa tas berisi beberapa lembar pakaian. Perutnya yang baru berusia 4 bulan mulai membesar tidak lagi dapat disembunyikan sepenuhnya.Beberapa orang yang mengenalnya memperhatikan dari kejauhan. Ada yang berbisik, ada pula yang sengaja membuang muka.Siti menarik napas panjang.Malu tidak akan memberinya makan.Dia akhirnya melangkah masuk.Jay sedang duduk di balik meja dekat kasir sambil memeriksa catatan pengeluaran. Begitu melihat Siti, lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Tatapannya turun sebentar ke perut Siti sebelum kembali mengarah pada wajah perempuan itu.“Kau?”Siti tersenyum kaku. “Apa kabar, Bang?”Jay me
Malam telah larut ketika mobil yang disetir Zulaikah berhenti di halaman sebuah rumah bergaya kolonial di kawasan perumahan elit Kota Jambi. Zulaikah baru tiga bulan lalu membeli rumah itu. Dan dia baru menempati rumah itu kurang lebih satu bulan.Rumah itu sunyi.Dari luar, lampu ruang tamu masih tampak menyala redup, sementara taman yang biasanya dipenuhi bunga kamboja tampak lengang tanpa seorang pun.Zulaikah mematikan mesin mobilnya.Entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Kadrun terus memenuhi pikiran Zulaikah. Ini sudah pertemuan ke sekian dengan Kadrun setelah dia menetap di rumah barunya tersebut. Tapi dia belum pernah mengajak Kadrun ke kediamannya.Zulaikah tersenyum kecil.Lelaki itu masih sama. Masih tertawa dengan suara yang keras. Masih menggaruk rambut kribonya setiap kali gugup. Masih berbicara seolah hidup tak pernah memberinya beban."Aneh..." gumamnya pelan. "Setelah bertahun-tahun, kau masih sama."Zulaikah melangkah masuk ke dalam rumah.Asisten
Mobil SUV hitam itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah bengkel di pinggiran Kota Jambi dengan plang besar bertulis “BENGKEL BANG SOMAD”.Mesinnya masih menyala.Siti termangu dari dalam mobil memandangi lorong di samping bengkel tersebut. Dadanya mendadak sesak."Bukalah."Suara Eko terdengar datar dari kursi depan.Siti tidak bergerak, "aku tidak mau turun."Eko menoleh melalui kaca spion."Itu bukan permintaan.""Aku mau bertemu Pak Bram.""Tidak bisa.""Kalau begitu antarkan aku ke hotel.""Tidak bisa."Siti menggenggam erat test pack yang masih berada di dalam tasnya."Dia bilang akan bertanggung jawab...."Eko menghela napas pendek, lalu turun membuka pintu mobil."Bu Siti."Nada suaranya tetap sopan, tetapi dingin. "Pak Bram tidak pernah mengulang ucapannya dua kali."Jantung Siti berdegup semakin cepat. "Dia pembohong!""Hubungan bisnis Ibu dan Pak Bram sudah selesai."Siti menggeleng kuat-kuat."Tidak mungkin. Bram bilang dia mencintai aku." Siti mulai men
Bram Wijaya berdiri bertelanjang dada dengan hanya sehelai handuk putih melilit pinggang di depan cermin besar kamar mandi sebuah hotel bintang lima di Bali. Wajah Bram dipenuhi busa cukur, sementara tangan kanannya dengan tenang menggerakkan pisau cukur menyusuri garis rahangnya yang tegas. Setiap gerakan yang ia buat tampak santai dan presisi.Sudah hampir sebulan Siti selalu berada di sisinya.Perjalanan bisnis itu dimulai dari Pekanbaru, berlanjut ke Jakarta, Batam, hingga akhirnya berakhir di Bali. Selama mengikuti Bram, Siti bebas melakukan apa pun yang diinginkannya. Saat Bram sibuk menghadiri rapat, bertemu relasi bisnis, atau menghadiri jamuan makan dengan para kliennya, Siti menghabiskan waktu dengan berbelanja, menikmati spa, atau menjelajahi berbagai tempat wisata. Semua kebutuhannya dipenuhi tanpa pernah ditanya ke mana ia pergi atau apa yang dilakukannya.Sejak meninggalkan kontrakan Kadrun, Siti mengikuti Bram ke mana pun pria kaya itu melangkah. Kemewahan yang selama in
Kadrun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.Dia tidak melanjutkan bertanya apapun.Sedangkan Zulaikah, dia tampak kembali mendekati salah satu ibu pembatik yang dengan hati-hati mengguratkan canting di atas kain mori.“Ini kain premium, Bu?” tunjuk Zulaikah pada kain yang sedang dikerjakan si Ibu.“Iya, kalau untuk batik tulis kita pakai kain katun premium atau kadang pakai sutra juga.”“Satu lembar ini selesai berapa lama dengan Ibu?” tanya Zulaikah.“Ya, setengah bulan lah, Bu. Tergantung motif, kalau rumit, ya harus lebih hati-hati jadinya butuh waktu lebih lama, bisa 1 bulan sendiri.” “Ibu yang buat desain ini sendiri?”Ibu itu tertawa, “saya bagian yang melukis saja, Bu.”“Siapa yang buat desain ini?” tanya Zulaikah lagi.“Ada, si Udin. Dia sudah sejak SMP diajarkan Bang Kadrun mendesain,”“Motif apa ini, bu?”“Riang-riang,” kali ini Kadrun yang menjawab, “ia terinspirasi dari serangga tonggeret yang melambangkan semangat dan kehidupan.”Kadrun melambaikan tangan ke arah
Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan
Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha
Iya Sayang, harus sabar. Aku kan juga sedang berusaha menjual batik seperti arahanmu. Aku tidak lagi menyumbang untuk para pengrajin. Semua penghasilan batikku akan kuberikan padamu. Cuma sekarang, pembeli batik sedang sepi. Jadi, jangan lagi berpikiran aku akan menelantarkanmu.” Kadrun mey
Perempuan seperti Cinderella memang tidak pernah ada di dunia nyata, begitu pun Snow White, Rapunzel, Aurora Sleeping Beauty, dan Mulan. Perempuan yang ada di muka bumi ini kebanyakan adalah semacam Siti Majenun. Setelah pesta kondangan usai digelar, acara adat selesai dilaksana







