LOGIN42Sekelompok orang yang raut wajahnya terlihat tegang, muncul dari pintu depan ruang ICU VIP. Mereka mendatangi keluarga Zhou yang seketika berdiri dari kursi, guna menyalami mereka. Zhou Yiran terisak-isak dalam pelukan papanya. Meskipun hubungan mereka sempat memburuk, tetapi selama beberapa bulan terakhir, mereka telah berbaikan dan berusaha memperbaiki keadaan.Dimas mendengarkan penuturan Koko iparnya, yang masih tampak syok. Zhou Yongrui menerangkan kronologi perkelahian serta penusukan pada Zhou Dingbang, berdasarkan informasi dari kedua asisten Zhou Dingbang dan beberapa rekan mereka, yang juga terluka akibat insiden itu. Cheung Xiuhuan dan Dokter Chan yang menangani Zhou Dingbang, muncul dari dalam ruang ICU. Mereka menyalami semua tamu yang baru datang dari Indonesia, kemudian keduanya bergantian menerangkan kondisi pasien yang masih koma. Zhou Yiran menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Tangisannya mengencang, sebelum dipeluk Dimas sembari ditenangkan pria tersebut. C
41Asmiratih mengerjapkan matanya yang memanas, sembari memandangi punggung calon suaminya yang bergerak menjauh. Asmiratih menekan-nekan ujung matanya dengan tisu, sebelum berbalik dan jalan ke tempat parkir bersama Ferlita, Zelia, dan Panji.Setibanya di tempat tujuan, keempatnya menaiki mobil van besar berlogo tour and travel PBK. Sang sopir segera melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, hingga kendaraan menjauhi area bandara.Asmiratih memandangi luar kaca dengan tatapan kosong. Hatinya gelisah, karena Zikria pergi menjelang pernikahan mereka. Padahal seharusnya pria itu sudah stand by di Indonesia, dan tidak keluyuran ke luar negeri. Malam beranjak larut, tetapi mata Asmiratih tak kunjung memejam. Lelah untuk mencoba tidur, akhirnya Asmiratih menyambar ponsel cashing merah dari meja rias, dan mengaktifkan benda itu.Asmiratih kaget kala ratusan notifikasi grup masuk secara bersamaan, hingga ponselnya mendadak eror. Asmiratih menunggu hingga benda itu bisa digunakan, kemudia
40Hari berganti. Akhir pekan itu, Zikria pergi ke rumah calon Ayah mertuanya, untuk melakukan acara buka puasa bersama. Zikria berangkat bersama Zelia, Kenji, Rishian, dan Dhriti. Sebab seusai salat Tarawih nanti malam, mereka akan langsung mudik ke Bogor. Selain Zikria dan rekan-rekannya, beberapa sahabat Asmiratih juga ikut datang. Dari Tangerang, mereka akan langsung pulang ke rumah orang tua masing-masing, guna menghabiskan waktu bersama keluarga. Tepat jam setengah lima sore, acara dimulai dengan salam dan salawat, yang dituturkan dengan fasih oleh Nareswara Bryatta, putra ketiga keluarga itu. Selanjutnya Zikria melantunkan ayat suci, dan terjemahannya dibacakan Mahesa. Seorang Ustaz kenalan pemilik rumah, memberikan tausiah yang menyejukkan hati para jemaah. Ketika sang ustaz mengajukan pertanyaan tentang keagamaan, yang mengacungkan tangan hanya segelintir orang. Termasuk Zikria dan keempat adiknya. Kelima orang tersebut menerangkan jawaban mereka dengan lugas. Ustaz berko
39Jalinan waktu terus bertukar. Bulan Ramadan tiba dan membuat gembira seluruh umat muslim di dunia. Tidak terkecuali Asmiratih. Dia sangat antusias menyambut bulan suci, dengan belajar mengubah penampilan diri.Kemunculannya di kantor GUNZ pagi itu, menjadikan semua orang tertegun. Asmiratih mengayunkan tungkai seraya tersenyum kepada teman-temannya, yang masih takjub dengan penampilannya yang berbeda dari kemarin.Asmiratih mengetuk pintu ruang rapat direksi, kemudian dia mendorong lawang dan melongok ke dalam. Asmiratih tersenyum lebar ketika orang-orang di ruangan itu kompak terdiam melihatnya masuk."Assalamualaikum," sapa Asmiratih sembari melenggang dengan santai."Waalaikumsalam," jawab semua orang di sana."Dek, aku nggak lagi mimpi, kan?" tanya Zikria, sembari terus memandangi gadis bersetelan blazer ungu tua dan jilbab ungu muda."Enggak, Bang," jawab Asmiratih, setelah dia berhenti dan duduk di kursi samping kanan Gwenyth. "Aku lagi belajar pake jilbab. Jangan dibully, ya
38Suasana ruang rapat di kantor HWZ, pagi menjelang siang itu terlihat dipadati banyak orang dengan berbagai tampilan. Mereka mendengarkan penuturan Zeinharis Abqary, komisaris 1 HWZ, tentang berbagai proyek mereka di seputar Indonesia, yang pengerjaannya telah tuntas.Hendri Danantya, komisaris 3, menyambung dengan laporan hasil kerja tim-nya, yang menangani wilayah Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Asia Selatan,. Wirya menjadi pembicara terakhir. Pria berkemeja biru muda itu memaparkan kinerja anak buahnya, yang menangani area Australia, New Zealand, Eropa, dan Kanada. Setelah ketiga komisaris duduk di tempat masing-masing, Izra Ammar Jagdisha, direktur utama HWZ, berdiri dan berpindah ke dekat layar televisi besar. Izra mengumumkan pengunduran dirinya dan semua direktur serta manajer, yang mengejutkan khalayak. Kecuali, para komisaris utama. "Saya, Emyr, Gunther, Kenzie, Gilang, Gwen dan Rini, masih menjadi komisaris tambahan HWZ. Kami juga tetap bersedia membantu, karena HWZ adal
37Kehadiran Wirya dan beberapa orang lainnya malam itu, mengejutkan Lova sekeluarga. Dia menyalami pria itu dan Vanetta dengan takzim. Kemudian Lova bersalaman dengan Zikria, Dimas, Girish, dan Fikri.Lova tertegun sesaat, sebelum menyambut uluran tangan Asmiratih. Lova kaget kala gadis yang lebih muda itu mendekapnya, dan Asmiratih membisikkan sesuatu."Ya, Mi. Aku sudah lebih tenang sekarang," tutur Lova dengan suara pelan, sembari mengurai dekapan."Kak, bisa kita bicara berdua aja? Ada hal penting yang mau kuomongin," pinta Asmiratih. "Ehm, ya. Kita ke teras samping," ajak Lova. "Kami pamit sebentar. Urusan ladies," cakapnya sembari memandangi semua orang di ruang tamu.Zikria memerhatikan kedua perempuan yang beranjak menjauh. Dia berdoa dalam hati, supaya Asmiratih dan Lova bisa berteman. Supaya kehidupan mereka bertiga ke depannya bisa lebih tenang. Wirya memulai percakapan pada Sakha dan Norma, tentang keinginannya untuk menarik Lova, sebagai pimpinan proyek di Chengdu. Wir
10 Zikria mendengarkan penuturan Dzardi Charand, Adik Dzafri Chalondra, yang merupakan anggota tim rahasia. Zikria telah meminta Dzardi untuk mengikuti Lova ke mana pun gadis itu pergi, karena direktur operasional PBK itu mengetahui kegemaran Lova akan dunia hiburan malam. Kenal sejak belasan tah
03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang mas
02Bulan bertukar dengan cepat. Asmiratih berhasil mengerjakan semua tugasnya lebih awal 2 bulan dari waktu yang telah disepakati. Dia menolak semua tawaran pekerjaan tambahan, karena ingin kembali ke profesi awalnya sebagai bodyguard lady. Asmiratih dan Ferlita segera mengemasi semua barang merek
01"Dek, nikah, yuk!" ajak Zikria Hafidz Shiddique. Asmiratih Kirania Bryatta tertegun sesaat, lalu dia menyahut, "Nggak mau." Raut wajah semringah yang semula ditampilkan Zikria, mendadak berubah masam. Pria berkumis tipis itu mengamati perempuan yang telah menjadi kekasihnya, sejak 2 tahun sila







