MasukCatriona mengerang sakit ketika Dominic sudah berhasil melesak sempurna ke dalam inti tubuhnya. Jari-jari Catriona mencengkram kuat lengan Dominic, dan keningnya menunduk lemas di atas pundak kokoh milik suaminya itu.Ini adalah pengalaman barunya dengan gaya seperti ini. Ia merasakan sensasi yang berbeda, sangat aneh. Ia merasa miliknya begitu penuh sesak dan sedikit nyeri."Now, it's your turn to lead, Honey!" bisik Dominic tepat di telinga Catriona.Hangatnya napas Dominic terasa menenangkan. Keduanya belum bergerak sama sekali, masih saling terdiam dalam kehangatan yang tercipta di bawah sana."Perih ..." lirih Catriona merasakan miliknya tergores di bawah sana. Entah sudah keberapa kali mereka melakukan penyatuan. Namun, Catriona tetap merasakan sensasi nyeri ketika milik Dominic menerobosnya."Relaks, Honey! Calm down. Kamu akan merasa sakit jika tegang seperti ini." ucap Dominic. Kedua tangan Dominic meraih pundak Catriona dan memundurkan tubuhnya pelan."Tatap aku Honey!" tita
Catriona sudah memiliki rencana akan meninggalkan kenangan yang harus diingat Dayana selamanya, sebelum pergi meninggalkan kastil. Catriona akan menunjukkan pada Dayana jika Diiminic hanya mencintai dirinya, dan posisinya sebagai istri tak bisa digeser siapa pun.Tidak ada celah bagi orang ketiga di hubungan mereka. Dan siapa pun yang mencoba mengusik hubungannya, maka ia akan terhempas dengan sendirinya.Nampak seringai samar di wajah Catriona yang terbaca oleh Dominic. Ia bisa menebak apa yang saat ini sedang direncanakan oleh Catriona.Dominic tidak akan melarang Catriona untuk melakukan apa pun. Ia justru penasaran skenario apa yang sudah disusun di dalam kepala istrinya itu. Dominic hanya akan menyaksikan, bagaimana cara istrinya bekerja."Dominic!" lirih Catriona."Ya Honey!" jawab Dominic lembut."Lihat, apa di atas dinding itu!" seru Catriona sambil menunjuk ke arah atas.Reflek Dominic mendongakkan kepalanya ke atas, ke arah tangan Catriona menujuk.CUPDominic sedikit terkej
BRAKDengan kasar Catriona melemparkan tasnya sembarangan ke atas meja. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan keras."Siapa wanita itu?" sungut Catriona. Wajahnya menekuk, mata indahnya tertutup oleh kobaran api cemburu. Ia menatap nyalang ke arah Dominic. Menunjukkan kemarahan, kekesalan, juga kekecewaannya.Tangannya dilipat ke depan dada, napasnya naik turun tidak beraturan. Baru saja, ia merasa sangat dicintai oleh Dominic. Menjadi satu-satunya wanita yang beruntung bisa menempati hati Dominic dan berada di sisinya.Namun, sekarang ia justru mendapati wanita lain berada di dalam kastil suaminya. Wanita yang dengan sangat akrab menyebut nama Dominic dengan panggilan berbeda.Dominic duduk di meja berhadapan dengan Catriona. Ia menatap wajah istrinya yang merah padam karena terbakar rasa cemburu. Dominic hanya tersenyum melihat kecantikan wajah istrinya ketika cemburu seperti ini.Semakin mempesona, dan membuatnya sangat bahagia. Rasa cemburu Catriona adalah hadiah terindah bagin
Baru beberapa langkah meninggalkan ruang senjata, Mark datang menghampiri dengan langkah tergesa. Dari raut wajahnya, Dominic tahu laporan yang dibawanya bukan perkara sepele."Tuan," panggil Mark sambil menundukkan kepala.Dominic menghentikan langkahnya. Catriona ikut menoleh ke arah Mark."Ada apa?"Mark mengangkat wajahnya. "Nyonya Jenny sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Beliau sekarang berada di kastil."Raut wajah Dominic seketika kembali datar."Aku tidak peduli."Jawaban dingin itu membuat Mark terdiam. Ia sudah menduga respons tersebut.Namun, Catriona justru menoleh tajam ke arah suaminya."Dominic." Nada suaranya lembut, tetapi penuh penegasan. "Waktu tidak pernah bisa diputar kembali."Dominic memandang istrinya tanpa menyela."Selagi masih ada kesempatan, temuilah ibumu." Catriona menggenggam tangan Dominic lebih erat. "Bagaimanapun juga, beliau adalah wanita yang telah melahirkan dan membesarkanmu."Tatapan Dominic melembut.Di dunia ini, mungkin hanya Catriona ya
Buket bunga camelia putih terbaring rapi di atas sebuah pusara. Kelopaknya yang bersih seolah menjadi lambang ketulusan cinta yang tak pernah pudar oleh waktu.Di atas batu nisan marmer hitam itu terukir sebuah nama. Camelia Barcklay.Seorang wanita yang telah lama meninggalkan dunia, tetapi kenangannya masih hidup di hati orang-orang yang mencintainya.Jenny berdiri mematung di hadapan makam itu. Tatapannya tak pernah lepas dari foto Camelia yang tersenyum lembut. Senyum yang dulu begitu akrab, kini hanya tinggal kenangan.Di sampingnya, Jackson ikut berdiri dalam diam.Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua datang setiap tahun untuk mengunjungi makam wanita yang pernah menjadi sahabat sekaligus penyelamat hidup mereka.Air mata Jenny akhirnya jatuh."Maafkan aku, Camelia..." lirihnya dengan suara bergetar. "Aku gagal menjaga putrimu. Aku... telah mengingkari janjiku padamu."Tubuh Jenny perlahan melemas hingga berlutut di depan pusara. Tangis yang selama ini ia pendam akhirnya pecah
Decapan bibir Dominic dan Catriona saling bertaut, memecah keheningan ruangan kedap suara. Sesekali keduanya melepaskan ciuman itu hanya untuk saling melempar senyum, sebelum kembali menikmati kehangatan yang sama. Seolah dunia hanya menyisakan mereka berdua.Kedua tangan Catriona melingkar erat di leher Dominic. Ia menggantungkan tubuhnya sepenuhnya pada pria itu, sementara Dominic mengangkat tubuh istrinya dengan mudah, membawanya seperti anak koala yang enggan melepaskan pelukan.Tanpa memutus keintiman mereka, Dominic mendudukkan Catriona di atas meja laboratorium. Barulah keduanya mengakhiri ciuman itu. Tatapan mereka bertemu. Hangat, dalam, dan penuh rasa memiliki."Siapa pria tadi, Dominic?" tanya Catriona penasaran. Bayangan lelaki paruh baya yang sempat memergokinya bersama Mark masih terlintas di benaknya."Profesor Salvador," jawab Dominic singkat.Catriona mengangguk pelan. Ia tidak mengenal nama itu, tetapi memilih tidak memperpanjang pembahasan. Perhatiannya justru tertu
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekua







