เข้าสู่ระบบBadru mengaitkan kentungan bambu ke pinggangnya. Senter besi tua di atas meja ia raih."Pak RT, Kang, saya izin pamit balik duluan," ujar Badru sambil menggeser kain sarung di bahunya. "Besok subuh harus sudah ngarit buat sapi-sapinya Abah Haji Sodiq. Takut kesiangan."Pak RT Sukra mendongak dari papan catur. "Oh, iya, Dru. Nggak apa-apa. Lagian besok Abah Haji Sodiq mau kirim sapi ke kota, kan? Kamu istirahat duluan aja.""Nuhun, Pak RT."Plak!Kang Dudung menepuk paha sendiri sambil tertawa. "Awas kesiangan, Dru! Abah Haji Sodiq galak kalau pekerjanya suka telat. Kamu tau sendiri kan, gimana Abah haji Sodiq kalau lagi marah?!""Mengerti, kang. Makasih nasehatnya.""Hih, kamu mah ngerti-ngerti aja."Badru cuma terkekeh pelan. Ia berbalik dan melangkah keluar dari pos ronda.Whuushh!Jalanan setapak desa sudah sepi. Badru berjalan santai dengan langkah teratur. Pikirannya agak tenang setelah seharian bekerja keras dan menyelesaikan urusannya.'Kerjaan besok lumayan banyak, harus bangu
Badru melangkah santai menyusuri jalan setapak desa. Pendar lampu pos ronda di ujung tikungan makin terang. Suara tawa bapak-bapak dan ketukan bidak catur samar-samar terdengar membelah malam.Whuushh!Angin malam berembus tipis menerpa kaosnya. Badru tersenyum tipis.'Dasar Lilis,' batin Badru. 'Dulu membuangku karena cuma kuli angon. Sekarang kepepet mau dijodohkan sama Juragan Darsa, baru dia bingung mencariku.'Ego lelaki Badru melambung tinggi. Rasa sakit hatinya dulu perlahan sirna. Tidak ada lagi niat di benaknya untuk mengejar Lilis.Apalagi Laras, kakak kandung Lilis sendiri yang tubuhnya jauh lebih matang, baru saja pasrah di bawah ketiaknya tadi sore. Pilihan Badru sekarang jauh lebih banyak.'Silakan saja nikah sama duda anak lima itu, Lis. Aku tidak sudi lagi jadi pelarianmu,' batin Badru mantap.Plak!Badru menepuk tiang bambu pos ronda begitu sampai."Assalamu’alaikum, Kang, Pak RT," sapa Badru. Suaranya berat dan tenang.Di dalam pos ronda, empat pria kampung sedang be
Deg!Langkah Badru terhenti seketika. Di bawah pendar lampu jalan desa yang remang, berdiri sosok Lilis. Mantan kekasih yang belum lama ini mencampakkannya.Lilis memakai celana jeans ketat yang membungkus paha mulusnya dan kaos kuning pres body. Kaos tipis itu menjiplak ketat sepasang gunung dadanya yang menonjol padat dan membusung kencang ke depan. Wajah cantiknya yang dipoles bedak tebal tampak gelisah, walau dipaksa berubah judes begitu melihat Badru.Lilis membetulkan pegangan kantong belanjaannya, lalu melangkah menghampiri Badru. Sandal selopnya bertepuk nyaring di atas tanah keras.Plak! Plak!"Ngapain kamu di sini, Kang?" celetuk Lilis ketus. Matanya meneliti Badru dari ujung kaki sampai kepala. "Malam-malam keluyuran, belum tidur?"Badru berdiri tegak, sengaja membusungkan dadanya. Pandangannya melirik sekejap pada belahan dada Lilis yang menyembul padat di balik kerah kaos kuningnya, lalu menatap wajah Lilis datar.'Masih saja judes,' batin Badru. 'Dia mana tahu kalau Lara
Srek...Badru menarik tangannya dari bra merah itu. Ia mempercepat gerakan tangannya melepas ritsleting celana, lalu buang air kecil di balik bilik sumur. Suara gemericik air beradu dengan debar dadanya yang makin kencang.'Pantas saja celana dalam merah itu baunya wangi dan ukurannya pas. Ternyata kepunyaan gadis selugu Jenar,' batin Badru sambil menyeringai tipis.Badru mendadak teringat masa-masa lalunya. Dulu, waktu Lilis membuangnya dan hampir semua gadis di kampung menjauhinya karena dia cuma kuli angon miskin, Jenar adalah salah satu dari sedikit orang—selain Merpati—yang tidak pernah memandangnya sebelah mata. Setiap kali Badru lewat atau sekadar mampir di dekat warung, Jenar selalu tersenyum manis dan menyapanya ramah tanpa pilih kasih.'Jangan-jangan... dari dulu Jenar memang sudah suka padaku?' batin Badru.Ego lelakinya melesat tinggi. Gadis berwajah manis yang biasanya tampil sopan dan polos di depan orang kampung itu ternyata menyimpan rasa padanya, bahkan punya sisi lia
Badru duduk santai di sudut bangku kayu sambil menghirup kopi hitam buatan Jenar. Di meja sebelah, Pak RT Sukra dan Kang Dudung sedang asyik menepuk nyamuk sambil main catur.Plak!Pak RT Sukra menepuk paha hitamnya, lalu menggeser bidak benteng kayu yang sudah kusam. Matanya melirik ke arah Badru yang tampak beda malam ini."Coba kamu lihat si Badru, Dung," celetuk Pak RT Sukra, memajukan dagunya. "Perasaan belakangan ini badannya makin tegap saja. Mukanya juga kagak kusam kayak biasanya. Ada angin apa kamu, Dru?"Kang Dudung tertawa terkekeh sampai gigi gigisnya kelihatan. "Iya juga ya, Pak RT! Dada bidangnya makin kelihatan berisi begitu. Bau bajunya juga wangi, kagak kayak kuli angon yang habis ngarit!"Deg!Badru yang mendengar godaan itu hanya tersenyum tipis, meneruskan seruputan kopinya.'Ternyata perubahan fisikku kelihatan juga sama orang-orang,' batin Badru, ego lelakinya melesat tinggi."Halah, palingan juga efek mau siap-siap kawin itu, Pak RT!" celetuk Kang Dudung asal t
Deg!Jantung Badru berdegup kencang. Langkah kakinya terhenti seketika."Badru?!"Badru menoleh ke arah pohon nangka. Merpati berdiri di sana sambil memegang gayung plastik berisi sisa sabun cuci.'Sial. Kenapa harus Merpati yang lihat?' batin Badru."Merpati? Kamu baru balik dari rumah Abah?" tanya Badru. Suaranya dibuat setenang mungkin.Merpati melangkah mendekat. Matanya meneliti Badru dari atas sampai bawah, lalu melirik pintu samping rumah Laras. Dahinya berkerut dalam."Harusnya aku yang nanya, Dru!" Merpati bersedekah tangan di dada. "Ngapain kamu keluar dari pekarangan samping rumah Teh Laras sore-sore begini? Pintu samping pula! Kamu habis ngapain di dalam?"Whuushh!Angin sore berembus pelan. Badru memasukkan kedua tangannya ke saku celana kargo.'Tenang, Dru. Kalau panik, dia makin curiga,' batin Badru."Perasaanmu saja itu, Mer," sahut Badru santai. "Siapa juga yang dari dalam rumah Teh Laras? Aku habis nyari ayam jago Pak RT yang lepas ke semak-semak.""Bohong!" potong M
Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Lara
Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan
Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah m
"Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging ke







