MasukMata Prana terus memperhatikan mobil yang membawa Shanum pergi. Kendaraan itu perlahan bergerak menjauh. Prana meraba ponsel di saku celananya, memastikan benda itu aktif agar bisa segera menerima kabar dari Shanum.Setelah memastikan kepergian Shanum, ia membalikkan badan, hendak kembali masuk ke area kafe untuk menghadapi meja Ralin. Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu kaca. Ralin, Hania, dan Lastri ternyata sudah berjalan keluar secara beriringan.Hania memapah lengan Ralin di sebelah kanan, sementara Lastri berjalan di sisi kiri dengan wajah masam yang kentara.“Kenapa keluar?”Hania mendongak, mendapati Prana yang berdiri kaku di depan mereka. “Mas, Mama Ralin pusing. Kita mau kembali ke vila sekarang,” jawab Hania cepat.Prana langsung menatap wajah ibunya. Detik itu juga, rasa khawatir langsung menyergap dada. Wajah Ralin tampak sangat pucat, dengan kelopak mata yang terpejam setengah dan sudut bibirnya yang tampak kaku menahan sakit.Prana tahu betul riwayat medis ibunya
“Mas, apa maksud Tante Ralin?” tanya Shanum, matanya menatap punggung tegap Prana, menuntut penjelasan yang selama tiga tahun ini tak pernah ia ketahui. “Siapa yang menghancurkan kalian? Mereka siapa?”Prana tak langsung berbalik, bahunya menegang kaku. Ketika akhirnya memutar tubuh, tatapannya menyiratkan kepanikan pekat.“Gak ada apa-apa, Num. Jangan didengerin,” potong Prana cepat, memegang kedua lengan Shanum erat, mencoba mengalihkan perhatiannya. “Ini cuma salah paham. Kita pulang sekarang, ya?”“Salah paham, kamu bilang, Pran?!” Ralin menyambar menyakitkan. Wanita paruh baya itu melangkah maju, berdiri tepat di samping putranya, menghadap Shanum sepenuhnya. “Kamu sebut seluruh air mata Mama selama ini cuma salah paham?”“Sebenarnya ada apa, Tan?” tanya Shanum, berusaha tenang meski hatinya bergemuruh.Dilepaskannya cengkeraman Prana di lengannya. Kepalanya mulai berdenyut. Tatapan benci Ralin jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan seorang ibu yang anaknya didekati seorang jand
“Mama gak akan kasih restu sampai kapanpun,” ucap Ralin tegas. “Kamu bakal tetap menikah?”Prana terdiam beberapa saat. Genggaman tangannya pada jemari Shanum semakin mengunci kuat, seolah memberikan tanda bahwa ia tak akan pernah melepaskan wanita itu apa pun yang terjadi.“Aku bakal tetap menikahi Shanum, Ma. Dengan atau tanpa restu dari siapa pun,” jawab Prana, mutlak tanpa keraguan sedikit pun.Shanum tersentak mendengar kalimat nekat kekasihnya. Ia menarik tangannya dari kuncian Prana dengan sekali sentakan kuat. “Mas, jangan bicara begitu sama Tante Ralin! Gak boleh!”Mata Shanum menatap Ralin dengan pandangan penuh rasa hormat sekaligus penyesalan yang mendalam. “Tante, maafkan atas semua kesalahan aku di masa lalu yang sudah membuat Tante dan Mas Prana sedih. Aku gak ada niat sedikit pun untuk mengganggu Tante dengan Mas Prana.”Ralin sama sekali tak bergeming. Ia mengabaikan posisi berdiri Shanum, bahkan tak melirik wanita itu sedikit pun. Fokusnya tetap terkunci pada Prana,
“Apa yang mau dibicarakan sama Mama, Pran?” tanya Ralin datar.Sudah sepuluh menit mereka duduk bersama bertiga di meja sudut kafe yang agak terpisah dari meja Hania dan Lastri.Tak sedikit pun Ralin menganggap kehadiran Shanum di sana. Tatapannya tertuju lurus pada Prana, mengabaikan keberadaan wanita di sebelah putranya yang kini meremas ujung kardigan di bawah meja.Prana memajukan posisi duduknya, menaruh kedua tangannya di atas meja. Ia melirik Shanum sekilas, memberikan ketenangan lewat sorot matanya sebelum kembali menatap sang ibu.“Aku sudah melamar Shanum, Ma. Rencananya kami mau menikah dalam waktu dekat,” ucap Prana tanpa ragu. Kalimat itu meluncur begitu tenang, kokoh, dan terdengar sangat bulat.Ralin tidak langsung merespons. Ia meraih cangkir teh kamomil hangat yang baru saja disajikan pelayan, menyesapnya sedikit dengan gerakan teratur. Setelah menaruh kembali cangkir itu ke tatakan piring kecil, barulah ia menatap Prana dengan sepasang mata yang menyipit.“Menikah?”
“Jadi ini urusan yang kamu bilang ke Mama di telepon tadi?” tanya Ralin.Prana menarik napas dalam. Ia melangkah maju mendekati ibunya. Dengan gerakan tenang, Prana melingkarkan lengan di pundak wanita paruh baya itu, memeluknya hangat mencoba meredam amarah sang ibu.“Jangan marah dulu,” bisik Prana lembut. Ia menunduk sedikit, mendaratkan satu ciuman penenang di pelipis ibunya.Ralin tak menolak pelukan itu, tapi tubuhnya tetap kaku. Matanya masih melirik tajam ke arah Shanum yang berdiri membeku beberapa langkah di belakang Prana.Prana mengurai pelukannya, mundur satu langkah besar ke posisi semula. Tanpa ragu, ia kembali meraih tangan Shanum yang tadi sempat terlepas, menggenggamnya begitu erat di depan mata ketiga wanita itu. Tindakan Prana membuat Lastri langsung mendengus tak suka.Shanum sendiri berusaha melepaskan tangannya tapi Prana menggenggamnya lebih erat.“Kebetulan kita ketemu di sini. Gimana kalau kita ngobrol di kafenya? Di dalam ada banyak makanan minuman hangat,”
“Iya, kita datangi Mama untuk minta restu. Buat jadwalnya nanti aku atur lagi ya,” ujar Prana, terdengar datar, sangat kontras dengan kehangatan yang ia pamerkan beberapa menit lalu.Shanum hanya mengangguk setuju.“Kenapa kita gak nikah aja dulu, baru nanti minta restu?” tanya Prana meraih cangkir jus stroberinya yang tinggal setengah. Ia meminumnya sedikit, memberikan jeda waktu yang cukup lama hanya untuk menelan cairan manis itu.“Gak bisa gitu, Mas,” tegur Shanum “Kita punya orang tua. Aku mau pernikahan kita langgeng selamanya.”“Iya, sayang.” Prana mencium pelipis Shanum sambil tersenyum.Ketenangann mereka teralihkan oleh, ponsel Prana yang bergetar beberapa kali. Beberapa pesan masuk berturut-turut. Prana mengambilnya di tas meja. Ibu jarinya bergerak menyapu layar untuk membuka baris pesan yang baru saja masuk.Visual riang di wajah dokter itu seketika lenyap tanpa sisa. Alisnya bertaut rapat, membentuk kerutan dalam di dahinya. Sepasang matanya menatap lurus pada deretan ka
“Kenapa datang-datang muka udah kayak baju kagak disetrika?” tanya Hendra—sahabat Prana sekaligus pengacara Shanum—sambil menyimpan dua gelas kopi di atas meja tamu kantornya.Prana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan lelah. Ia baru sampai beberapa menit yang lalu setelah menemui Ralin
“Mbak, tadi Mbok Yah telepon aku. Katanya Mbok Yah gak bisa datang lagi ke sini buat nemenin Mbak."” buka Tiara yang duduk di kursi samping ranjang, sibuk mengupas buah apel dengan pisau kecil.Shanum yang kini sudah bisa duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang Shanum menoleh kecil pa
“Fadil, kasus kamu ini sudah menyebar ke mana-mana. Media online, media sosial, semuanya membahas soal penganiayaan ini. Kita benar-benar harus berhati-hati sekarang. Langkah kita dipantau banyak orang,” ucap Kartika—ibu Fadil—mencondongkan badannya ke depan, menatap anak sulungnya di ruangan khusu
“Iya, Han. Aku masih di rumah sakit. Kalau di sini selesai nanti aku susul. Kalian makan aja dulu,” jawab Prana pada sambungan telepon Hania.Suaranya sengaja direndahkan, nyaris berbisik. Sesekali matanya melirik ke arah Shanum yang sudah kembali tertidur di ranjangnya. Wajah wanita itu tampak beg







