로그인Setelah riak batin kedewasaan itu menggema di kepala semua orang, Aditya kembali melunakkan sedikit nada suaranya, namun tetap sarat akan kepastian.
"Aku tahu fluktuasi kejiwaanmu, Nad. Aku sangat takut saat kamu ’down’, kamu memutuskan kita batal menikah," jelas Aditya, menjabarkan isi kepalanya dengan sangat logis.
"Coba kamu pikir bila itu terjadi," sambung Aditya, meminta Nadia untuk melihat kenyataan pahit yang mungkin saja menghancurkan mereka ber
Nadia sendiri sempat tertegun, namun ia langsung menoleh pada suaminya. "Maksudmu piye, Mas?" tanya Nadia lembut. Dia sangat yakin suaminya adalah orang yang bijak, dan pasti tidak akan melarang hubungan suci antara dirinya dan mantan mertuanya yang sudah seperti orang tua kandung sendiri.Aditya mengulas senyum yang sangat menawan, seolah tahu isi kepala semua orang yang mendadak tegang."Maksud saya, Papa dan Mama sekarang punya tiga anak. Nadia, saya, dan Nayaka," balas Aditya dengan nada suara yang begitu meneduhkan."Kenapa tiga? Kenapa tidak hanya kalian saja?" balas Fitri cepat, masih belum menangkap sepenuhnya arah ketulusan hati Aditya.Aditya membetulkan posisi duduknya, menatap Fitri dan Ikhsan dengan sorot mata kedewasaan yang luar biasa matang."Sebenci apa pun, Yaka tetap anak Mama. Dia tetap ayah kandung dari Anya dan Angga. Dan, hubungan Mama dan Nadia kan diawali karena hubungan Nadia dan Yaka dulu," jelas Aditya panjang lebar.&nbs
"Lho, kamu enggak bawa anak-anak? Kenapa enggak telepon Mama dulu?" Fitri, yang baru saja kembali dari jalan santai di hari Minggu, tampak terengah-engah. Dia yang sedari tadi menemani Ikhsan lari pagi benar-benar kaget ketika melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang makan, sudah ada Nadia, dan mantan menantunya itu tampak begitu santai sedang mengatur menu sarapan di atas meja."Ha ha, santai, Ma," balas Nadia sambil terkekeh geli, meletakkan gelas air putih terakhir tanpa raut canggung sama sekali.Sementara itu di area teras depan, Ikhsan yang baru selesai menyeka keringatnya berjalan mendekat."Sudah lama?" tanya Ikhsan begitu melihat sesosok pria tegap duduk dengan sikap sangat sopan di kursi teras, lengkap dengan secangkir kopi hitam yang sudah tersaji di mejanya."Belum, Om. Baru saja," balas Aditya sembari langsung bangkit berdiri, menyambut Ikhsan dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman penuh hormat.Ikhsan menepuk bahu pria muda itu dengan ramah. "Yuk masuk, kita sarapan
"Mas keluar dulu, itu yang antar pakaian dan mobil Mas sudah mau sampai. Biar kalau satpam gerbang perumahan minta izin, Mas bisa langsung terima video callmereka," ucap Aditya, karena ponsel di genggamannya mendàdak bergetar dan berbunyi menampilkan nama pegawai yang dia minta untuk mengantarkan mobil serta keperluannya.Nadia hanya mengangguk sembari tersenyum, melepas suaminya yang melangkah bergegas keluar kamar untuk mengurus kedatangan kendaraan dan barang-barangnya.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈Beberapa waktu berlalu, pintu kamar kembali terbuka."Aaaah, akhirnya bisa mandi dan ganti pakaian," ucap Aditya menghela napas lega saat melangkah masuk kembali ke dalam kamar, kali ini dengan dua koper besar yang beroda di kedua tangannya.Di dalam kamar, suasana sudah terasa jauh lebih tenang dan segar. Nadi
"Ayok Mas, kita makan," ajak Nadia pada suaminya dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cerahnya."Ayok, tapi sebelum itu Mas mau bilang, kita besok ke rumah orang tua Nayaka ya," ucap Aditya tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Nadia."Kenapa Mas?" Nadia sempat tertegun sekilas, rasa terkejut tampak di wajahnya."Sebelum ada kabar keluar ke mana-mana, ada baiknya kita yang memberi tahu mama dan papamu langsung dari mulut kita, agar mereka tetap merasa kamu hargai," jelas Aditya dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa seorang pemimpin.Mendengar penjelasan itu, dàda Nadia seketika bergemuruh hebat. Air matanya nyaris terbit lagi, kali ini benar-benar karena rasa kagum yang luar biasa pada sosok di hadapannya.‘Ya ampuuuun…, ini lelaki otaknya memang supeeeer!’‘Aku sendiri bahkan sama sekali tidak berpikir soal Mama Fitri dan Papa Ikhsan saat ini.’‘Pik
‘Aku sekarang sudah punya imam?’‘Aku sekarang punya pemimpin?’‘Aku sekarang adalah makmum?’Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya bergaung di dalam kepala Nadia, berputar seperti melodi yang terasa asing namun begitu menggetarkan dinding hatinya. Sambil melangkah pelan di sebelah Aditya menuju meja makan, jemari Nadia meremas pelan ujung kebayanya. Matanya melirik wajah macho pria yang berjalan di sisinya, pria yang beberapa menit lalu baru saja menyebut nama lengkapnya dalam satu tarikan napas yang lantang dan tegas di depan saksi dan sesepuh keluarga.Nadia masih dilingkupi rasa tidak percaya atas takdir kilat yang baru saja mengikatnya,‘Ya Allah... benarkah semua ini baru saja terjadi? Jam sepuluh pagi tadi, aku duduk di sini dengan jantung yang mencelos, dilingkupi ketakutan setengah mati hanya untuk menghadapi sebuah acara lamaran.’‘Aku datang dengan membawa sekarung trauma, bersiap untuk mundur atau setidaknya mengemis waktu tunda karena jiwaku belum siap membuka diri pada dun
Setelah jeda beberapa menit untuk merapikan diri, suasana ruang tamu kini telah berubah total menjadi sangat khidmat. Semua mata tertuju pada meja akad di sudut ruangan.Aditya duduk tegak dengan jemari yang menjabat erat tangan Galih Bachruddin Cayapata di atas meja kayu tersebut. Detak jantung seisi ruangan seolah berhenti berputar saat Galih mulai mengucapkan kalimat tahkimnya.Dengan tatapan lurus, rahang yang kokoh, dan suara yang bergaung mantap, Aditya langsung menyambutnya."Saya terima nikah dan kawinnya Nadia Swastika Cayapata binti Galih Bachruddin Cayapata dengan mas kawin cincin berlian dan uang sejumlah 11.110.000 dibayar tunai!" ucap Aditya dengan sangat tegas, lugas, dan dalam satu tarikan napas yang sempurna.11.110 adalah tanggal hari ini, 11 NovemberPakde Broto, yang bertindak sebagai penghulu siang itu, langsung menolehkan kepalanya secara bergantian ke sisi kanan dan kiri meja. Dia menatap Pakde Haris selaku saksi
Kerugian Immateriil sebesar Rp1 Miliar, sebagai bentuk penebusan atas seluruh kesalahan, tekanan psikologis, dan kerusakan nama baik yang telah diderita oleh Nayaka akibat kelakuan kotor perempuan itu.Biaya Pengacara dan Penyelidikan, Rahma juga dituntut untuk membayar penuh seluruh biaya
“Apaaaaaa?” “Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir. Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang t
“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon
“Tidaaaaaak!!!” Yaka menutup mulutnya dengan bantal dan dia berteriak sepuas-puasnya di kamar kost.Yaka menyadari kebodohan dirinya selama 5 bulan jadi budaknya Soraya dan Rahma!Yaka sadar, semua yang kenal Rahma tentu akan mencibir kebodohan dirinya yang menyerahkan keutuhan rumah tangganya demi







