SUAMI PENGGANTIKU SEORANG BOS
Angin petang bertiup lembap, menyapu dedaunan yang gugur di pinggir jalan.
Aksara menggenggam kemudi erat, menahan cemas. Di sebelahnya, Dewi tampak pucat, sesekali bibirnya bergetar melafalkan doa.
Aksara tak mengurangi kecepatan, tapi tetap hati-hati. Sesekali ia melirik Dewi yang duduk diam, menatap keluar jendela dengan mata sembab.
“Sayang,” panggil Aksara lembut. “Kalau kamu lelah, sandarin kepala ke bahu aku, ya.”
Bab Populer