MasukIa menyebut nama Theresa tanpa ragu, seolah nama itu adalah topik yang sudah biasa diperbincangkan di lingkaran mereka. "Aku yakin, kamu pasti mendengar banyak hal yang menyakitkan semalam. Mas Althaf itu... dia memang tipe pria yang tidak selalu jujur tentang situasi rumit yang dihadapinya."
Kenaya menjeda kalimatnya, lalu menoleh padaku dengan tatapan tulus. "Tapi, aku mau kamu tahu satu hal: aku di sini bukan untuk menghakimi atau memojokkanmu. Aku ingin menjadi temanmu, Mbak SenjSeluruh darahku seolah ditarik ke bawah. Jadi, titik terendah dalam hidupku... utang-utang yang mencekik itu... adalah pintu masuk baginya? "Dia sengaja menyebutnya pernikahan kontrak atau kesepakatan bisnis," Kenaya menjelaskan, matanya memancarkan pengertian yang dalam. "Dia itu pria yang gengsinya setinggi langit. Dia malu dan takut mengungkapkan perasaan yang begitu besar. Dia takut ditolak, atau terlihat konyol seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta." Kenaya meremas jemariku, memberikan penekanan pada kalimat pamungkasnya. "Tapi yang perlu kamu tahu, Mas Althaf sangat mencintaimu. Aku yakin itu. Dia tidak pernah menatap orang lain seperti cara dia menatapmu." Aku membeku. Kepalaku pening dan segala hal yang kuyakin benar selama ini terasa runtuh. Kenyataan ini jauh lebih rumit daripada sekadar urusan bisnis. Ini adalah sandiwara cinta yang canggung dan rumit, yang dimainkan oleh seorang pria yang terlalu takut untuk jujur.
Kenaya menoleh padaku lagi. Kali ini, ia tersenyum penuh arti, bahkan ada binar geli di matanya yang membuatku semakin tidak tenang."Kesepakatan pernikahan kalian itu sebenarnya hanya akal-akalan Mas Althaf, Mbak," bisik Kenaya. Suaranya rendah, mengandung sebuah rahasia besar yang selama ini terkunci rapat.Dahiku langsung berkerut dalam. Aku mencondongkan tubuh ke depan, sepenuhnya melupakan kesedihanku barusan. Fokusku kini tersita total oleh Kenaya. "Maksud kamu apa, Ken?" tanyaku, bingung sekaligus sangat penasaran.Kenaya tertawa kecil, seolah menikmati reaksi terkejut yang ia ciptakan di wajahku. "Ya, akal-akalan. Pernikahan ini bukan sepenuhnya tentang bisnis, atau sekadar misi menyelamatkan perusahaan keluarga seperti yang selama ini dia katakan padamu, Mbak Senjani."Aku memandangnya dengan tatapan menuntut, menuntut kejujuran. "Aku semakin tidak paham maksudmu. Tolong, jelaskan saja langsung," desakku.Kenaya menghela napas, ia men
Ia menyebut nama Theresa tanpa ragu, seolah nama itu adalah topik yang sudah biasa diperbincangkan di lingkaran mereka. "Aku yakin, kamu pasti mendengar banyak hal yang menyakitkan semalam. Mas Althaf itu... dia memang tipe pria yang tidak selalu jujur tentang situasi rumit yang dihadapinya."Kenaya menjeda kalimatnya, lalu menoleh padaku dengan tatapan tulus. "Tapi, aku mau kamu tahu satu hal: aku di sini bukan untuk menghakimi atau memojokkanmu. Aku ingin menjadi temanmu, Mbak Senjani."Ia menarik napas panjang, seolah sedang menimbang-nimbang kata-kata yang tepat untuk memberitahuku rahasia yang lebih besar."Satu hal yang harus kamu tahu, Mbak. Mau dulu ataupun sekarang, Mas Althaf tidak pernah punya hubungan spesial dengan Mbak Theresa," tegas Kenaya. Namun, penekanannya pada kata 'spesial' terdengar sedikit ganjil di telingaku, seolah ada makna lain yang ia sembunyikan."Mas Althaf dan Mbak Theresa memang dekat sejak kecil. Mereka tumbuh ber
Sisa-sisa ketegangan dari konfrontasi antara Revan dan Althaf semalam terasa seperti mimpi buruk yang kabur. Ingatanku terputus pada momen Althaf menarik pergelangan tanganku, menyeretku pergi dalam keheningan yang mematikan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Revan setelah itu-apakah ia mengejar, atau hanya mematung melihatku dibawa pergi layaknya barang jarahan.Aku terbangun tepat saat subuh menyapa. Hal pertama yang kusadari adalah beban berat di pinggangku: lengan Althaf. Sentuhan yang biasanya menjadi dermaga tenangkku, kini terasa seperti jerat yang mencekik. Dengan napas tertahan, aku memindahkan tangannya inci demi inci. Aku harus ekstra hati-hati; aku belum siap menghadapi tatapannya saat ini.Aku tidak ingat kapan ia masuk ke kamar semalam, atau bagaimana aku bisa berakhir dalam pelukannya. Kelelahan emosional yang luar biasa telah merenggut kesadaranku tak lama setelah tiba kembali di villa.Berhasil lolos dari ranjang, aku segera meraih cardigan abu-abu yang tersampir d
“Lo pasti nggak nyaman di sana, kan, Sen?” ucapnya pelan, suaranya mengandung pemahaman yang mendalam.Ucapan itu telak. Aku langsung menoleh menatapnya. Tatapan kami bertaut selama beberapa detik, dan ia tersenyum manis. Senyum itu menghangatkanku, memberikan kenyamanan yang sangat kurindukan di tengah rasa dingin dan keterasingan ini.Aku mengalihkan tatapanku kembali ke depan dan mengangguk. “Iya, Van. Di sana menyesakkan. Gue ngerasa nggak cocok. Dunia Althaf dan gue benar-benar bertolak belakang, Van. Dunia kalian—yang penuh kemewahan, politik bisnis, dan partner yang tak terpisahkan—sangat sulit gue imbangi.”Suaraku akhirnya bergetar. Aku tidak hanya bicara soal Theresa, tapi tentang seluruh atmosfer di sana, tentang gaun mahal dan bisikan meremehkan yang kudengar.Revan menghela napas panjang, suaranya rendah. “Gue tahu, Sen.”Ia menoleh, menatapku lagi, tatapannya kini lebih tegas. “Ini bukan dunia yang pernah Lo impikan, Senjani
Aku bukan hanya menggantikan Theresa sebagai istri, Theresa masih menjadi partner profesional yang tak tergantikan bagi Althaf dan keluarga besarnya.Rasa sakit dan amarah yang luar biasa membuatku tidak sanggup lagi berada di ruangan itu. Aku tidak mau menghadapi dua wanita penggosip itu. Aku juga tidak sanggup kembali ke meja dan melihat senyum palsu Althaf.Dengan hati-hati, aku membuka kunci bilik kamar mandi. Untungnya, dua wanita itu sudah pergi. Aku segera menuju pintu keluar. Aku melihat pintu lain, pintu servis yang tampak samar di sisi ruangan, dan memutuskan menggunakannya.Aku membuka pintu itu perlahan, lalu bergegas keluar. Setelah melewati lorong staf yang sepi, aku menemukan jalan setapak kecil yang mengarah ke luar batas taman pesta.Aku terus berjalan hingga pasir putih lembut terasa di kakiku. Aku menoleh ke belakang; lampu-lampu pesta tampak remang-remang di kejauhan, dan suara orkestra kini hanya terdengar samar, tertiup angin
Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak
Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata
Setelah tiga bulan menjalani pernikahan bersama Althaf, ternyata benar seperti yang dikatakan Mbok Mirna, Althaf memang jarang sekali pulang ke rumah. Biasanya hanya dua minggu sekali, bahkan kadang sampai tiga minggu baru sekali pulang. Itupun hanya sebentar, langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa
“Eh, gue denger kabar… Pak Althaf udah nikah.”Ucapan Revan terdengar begitu ringan, tapi bagiku seperti palu besar yang menghantam dadaku.Sendok di tanganku berhenti di udara. Mataku refleks melebar, napasku tercekat. Sejenak, suara di sekitar kafetaria seakan lenyap, hanya degup jantungku yang t







