Masuk
"Meghan! Jawab Ayah!"
Suara itu berat dan menggema di ruangan berbatu yang dingin. Meghan tersentak, kepalanya yang sedari tadi menunduk lemas mendadak tegak. Rasa kantuk yang luar biasa berat seketika sirna, berganti dengan keterkejutan yang menghantam dada. Hal pertama yang ia rasakan adalah paru-parunya. Paru-paru itu terasa kosong, ringan, dan tidak menyakitkan. Tidak ada selang oksigen yang menusuk hidungnya, tidak ada bau obat-obatan yang menyesakkan, dan tidak ada bunyi beeping mesin jantung yang selama dua puluh tujuh tahun menjadi melodi kematiannya. 'Aku masih hidup?' "Meghan! Apa kau mengerti sekarang?!" Meghan mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lilin yang temaram. Di depannya berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah beludru tebal. Di dada kiri jubah itu, tersemat lencana perak berbentuk burung thrush. Simbol dari keluarga Baron Valerius, gelar bangsawan rendah kelas tiga yang hanya memiliki sebidang tanah kecil di perbatasan kerajaan. "Ayah?" Suara Meghan keluar, terdengar jauh lebih jernih dan kuat dari suara serak Nadira yang biasanya. Baron Valerius menggebrak meja kayu jati di hadapannya. "Jangan memasang wajah linglung begitu! Pernikahanmu dengan Carl, adalah satu-satunya cara agar keluarga kita tidak bangkrut. Tidak akan ada lagi bangsawan tinggi yang mau melirik putri seorang Baron miskin sepertiku!" Meghan terpaku. Pikirannya berputar hebat. Ia ingat saat-saat terakhirnya sebagai Nadira di rumah sakit, saat dengungan mesin terasa pengap di telinga. Lalu kegelapan. Ia memandangi tangannya. Kulitnya putih, halus, dan tidak ada bekas jarum infus. Ia bukan lagi Nadira yang penyakitan. 'Bagaimana bisa aku hidup lagi?' "Meghan! Jawab Ayah! Jangan hanya diam seperti patung!" Suara bentakan itu membuat kepalanya berdenyut hebat. Seketika, serpihan memori yang bukan miliknya merangsek masuk ke dalam benak seperti air bah. Ia melihat potongan-potongan fragmen kehidupan lain. Sebuah kastel tua yang lembap, gaun-gaun yang mulai usang, dan cermin yang menampakkan wajah seorang gadis muda yang cantik, tapi selalu terlihat tertekan. Dalam kilasan memori itu, ia mendengar orang-orang memanggilnya dengan satu nama. Meghan. Ia kini tahu siapa dirinya di dunia ini. Ia adalah Meghan Valerius, putri tunggal dari seorang bangsawan kelas rendah yang gelarnya nyaris tak dianggap di ibu kota. Melalui memori sisa dari pemilik tubuh aslinya, Nadira menyadari bahwa Meghan baru saja pingsan karena stres memikirkan perjodohan paksa ini, tepat sebelum jiwanya masuk dan mengisi raga yang kosong itu. Nadira, atau sekarang Meghan, mendongak, menatap pria paruh baya di depannya yang ia kenali melalui memori tubuh ini sebagai ayahnya. Ia menghirup udara dalam-dalam. Tidak ada aroma antiseptik, hanya bau kayu terbakar dari perapian dan debu yang menempel pada tirai beludru usang di ruangan ini. "Meghan! Kau mendengarku tidak?!" Baron Valerius melangkah mendekat, bayangannya yang besar menyelimuti Meghan di bawah cahaya lilin. "Carl memang anak selir, tapi dia memiliki akses ke perbendaharaan luar. Dengan mahar yang dia tawarkan, kita bisa memperbaiki atap kastel ini dan melunasi utang-utang pada pengumpul pajak." Meghan masih membisu. Ia tidak sedang memikirkan atap kastel yang bocor atau status Carl. Pikirannya justru tertambat pada memori terakhir sebelum kegelapan merenggutnya. Wajah seorang pria yang menatapnya dengan rasa kasihan sekaligus jijik, menolak cintanya hanya karena ia dianggap sebagai beban yang sebentar lagi akan mati. 'Tuhan, Kau benar-benar mengabulkan doaku?' "Kapan pertemuan itu akan dilakukan?" tanya Meghan pelan, suaranya terdengar begitu tenang hingga sang Baron sempat tertegun. "Malam ini. Di pesta perayaan musim gugur kerajaan. Kau harus tampil sempurna," jawab ayahnya. Baron Valerius mengembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang tampak sedikit merosot. "Bagus. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan gaun sutra biru. Itu satu-satunya gaun yang masih terlihat layak untuk bersanding dengan keluarga istana." Meghan hanya mengangguk kecil, membiarkan ayahnya berlalu keluar dari ruangan batu yang lembap itu. Begitu pintu kayu berat tertutup dengan dentuman pelan, Meghan segera beranjak menuju sebuah cermin besar dengan bingkai perak yang sudah menghitam karena oksidasi. Ia terpaku menatap pantulan dirinya.Wajah di cermin itu bukanlah wajah Nadira yang pucat dengan kantung mata hitam yang dalam. Meghan memiliki tulang pipi yang tegas, bibir penuh yang kemerahan, dan sepasang mata tajam yang tampak sangat hidup. Ia menyentuh lehernya, area yang biasanya selalu ditempeli alat medis, kini terasa halus tanpa cela. "Meghan Valerius. Dua puluh dua tahun. Sehat. Dan sangat jauh dari kematian,” bisiknya mencicipi nama baru itu di lidahnya. *** Meghan meremas pinggiran jendela kereta hingga buku jarinya memutih, seolah sedang mencekik takdir yang baru saja menyeretnya ke tahun 1290 ini. Di luar sana, gerbang istana yang menjulang tinggi tampak seperti rahang raksasa yang siap menelannya bulat-bulat. Ia bukan lagi Nadira yang terbaring pasrah menunggu ajal di balik selimut rumah sakit. Ia adalah Meghan Valerius, dan malam ini ia masuk ke medan perang dengan tubuh yang akhirnya bisa ia perintah sepenuhnya. Begitu pintu kereta terbuka, ia turun dengan satu tujuan. Memastikan perjodohan hina dengan anak selir itu gagal sebelum fajar menyingsing. Namun, langkah kakinya membeku tepat di ambang pintu aula yang megah. Di tengah kerumunan bangsawan, berdiri seorang pria yang sedang tertawa dingin. Cahaya lilin yang bergetar memahat garis wajah yang selama ini menghantui mimpi buruk Nadira. Mata elang itu, cara pria itu memutar gelas perak di tangannya, bahkan seringai tipis yang meremehkan itu. Semuanya identik dengan wajah pria yang telah membunuh harapannya di kehidupan lalu. "Itu adalah Pangeran Mahkota Ralph. Pemilik takhta yang sesungguhnya. Jangan berani-berani menatap matanya," bisik ayahnya dengan nada hormat yang terselip rasa takut. Meghan menyipitkan mata. 'Mengapa wajahnya sama dengan lelaki yang menolakku?'"Bertahanlah, Yang Mulia! Demi Tuhan, kumohon bertahanlah!" Meghan memeluk tubuh Elanor dari belakang dengan sisa-sisa kekuatannya yang hampir habis. Dada Meghan bergetar hebat. Rasa dingin danau yang masih tersisa di tulang-tulangnya seketika menguap, digantikan oleh rasa panas yang membakar saat kulitnya bersentuhan dengan tubuh Elanor yang bersimbah keringat dan darah. Pakaian pelayan Meghan yang baru diganti kini mulai ternoda oleh darah persalinan sang Ratu, namun ia tidak peduli. Tidak sedikit pun. Elanor mengerang mengerikan, sebuah jeritan parau yang menyayat hati terdengar dari tenggorokannya yang kering. Kepala Ratu terkulai ke belakang, menghantam bahu Meghan, sementara jemarinya yang berlumuran darah mencakar lengan Meghan dengan sangat kuat hingga menembus kain bajunya. Rasa sakitnya menular, mencabik-cabik psikis Meghan yang memang sudah hancur sejak semalam. "Aku tidak kuat, Meghan ... sakit sekali ...," racau Elanor, air matanya menetes melewati pipi piasnya dan
Meghan merasa harga dirinya sudah tidak bersisa lagi. Kejadian semalam bukan sekadar merenggut paksa kesucian raganya, melainkan menghancurkan berkeping-keping psikisnya hingga ke dasar yang paling kelam. Sebagai seorang selir, ia sudah tahu bahwa khalayak umum tidak akan pernah menaruh hormat padanya. Namun, dijadikan tontonan dan diperlakukan bagai binatang pemuas birahi di depan wanita lain benar-benar berada di luar batas kemanusiaannya. Tanpa melepas sehelai pun kain tipis yang membungkus tubuh penuh memarnya, Meghan melangkah masuk ke dalam air danau yang sedingin es. Sebenarnya, apa yang ia lakukan bukan lagi sekadar berendam untuk membersihkan diri. Meghan sengaja menenggelamkan tubuhnya, membiarkan air danau yang pekat merayap naik ke dada, leher, hingga akhirnya seluruh permukaan kulit kepalanya ikut masuk dan menghilang di bawah permukaan air. Meghan memejamkan mata. Ia berharap Tuhan berbaik hati untuk mendengar jeritannya kali ini, cabut sekali lagi nyawanya, dan t
Ralph tidak memberi Meghan waktu untuk memikirkan skenario pembunuhan di kepalanya. Sentakan pria itu begitu kuat hingga punggung polos Meghan menghantam kasur sutra dengan keras, menyisakan sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuh Ralph yang membakar. Pria itu mengungkung Meghan sepenuhnya. Kedua tangan kekarnya langsung mengunci pergelangan tangan Meghan ke atas kepala, menekan urat nadinya begitu erat hingga jemari Meghan yang semula berniat meraih tusuk rambut perak itu mati kutu, tak berdaya di atas bantal. "Buka kakimu," perintah Ralph, suaranya bukan lagi bariton yang tenang, melainkan geraman rendah yang sarat akan syahwat dan dominasi mutlak. Meghan memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah saat merasakan lutut Ralph yang kokoh memaksa kedua paha bagian dalamnya terbuka lebar. Hawa malam paviliun Utara terasa menusuk bagian tubuhnya yang paling intim, yang kini terekspos sepenuhnya di bawah tatapan lapar Ralph dan sepasang mata Vespera yan
"Se-seperti ini caranya melayani Paduka." Suara Meghan bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar paviliun Utara yang mencekam. Jemarinya yang dingin bergerak ke arah ikatan terakhir dari gaun pelayannya yang sudah compang-camping. Dengan satu tarikan napas yang terasa mencekik tenggorokan, kain koyak itu akhirnya ia lepas, meluncur jatuh ke lantai batu bersama dengan kain dalamnya. Meghan berdiri telanjang di bawah temaram cahaya lilin. Kulitnya yang pias meremang, bukan hanya karena hawa malam yang menusuk, melainkan karena rasa hina yang teramat pekat mulai menguliti harga dirinya lapis demi lapis. Vespera, yang sejak tadi berdiri di dekat pilar ranjang, menatap tubuh Meghan tanpa banyak berkomentar. Tidak ada binar kepuasan, tidak ada pula rasa jijik di matanya yang sedingin es. Wanita dari Kerajaan Barat itu hanya menonton dengan tatapan kosong seorang tawanan yang sudah mati rasa terhadap segala bentuk kegilaan di istana ini. Namun, di balik wajah Meghan yan
"Bajingan! Keparat! Lelaki iblis!" Entah ini adalah umpatan ke berapa yang keluar dari mulut Meghan sepanjang ia mati-matian menepis tangan-tangan nakal dan kasar yang mulai menjamah tubuhnya tanpa izin. Nadira tidak pernah menyangka ternyata kehidupan keduanya sangatlah buruk! Hidup kembali dalam tubuh seorang anak Baron bernama Meghan bukanlah sebuah mimpi indah seperti di dongeng-dongeng. Pantas saja Meghan yang asli memilih mati, ternyata hidup di zaman ini sangat gila dan tidak masuk akal! Meski di kehidupan sebelumnya jantungnya cacat sedari lahir, setidaknya menjadi Nadira tidak membuatnya dikelilingi oleh monster-monster tidak bermoral seperti sekarang ini! "Hei, jangan bergerak terlalu banyak, Manis! Paduka Raja sudah memberikanmu pada kami!" Tawa seorang prajurit pecah saat jemari kasarnya merenggut paksa kerah gaun Meghan. Sret! Bajunya sudah compang-camping. Kekuatan para prajurit yang terbiasa memegang pedang di medan laga jelas tidak setara dengan tenaga ringki
"Paduka, tolong jangan begini!"Meghan masih mencoba membujuk, suaranya bergetar menahan desakan tangis yang mati-matian ia seka di balik pelupuk mata. Napasnya tersengal, beradu dengan degup jantungnya yang bertalu liar di rongga dada. Bagaimanapun, melakukan hubungan badan di depan orang asing, menelanjangi diri dan membiarkan setiap jengkal tubuhnya ditonton oleh wanita yang baru menginjakkan kaki di istana ini, sangat menentang moralnya sebagai seorang perempuan. Statusnya mungkin telah merosot menjadi selir yang terikat. Namun sisa-sisa kehormatannya sebagai putri seorang Baron menolak untuk diinjak sedalam itu.Di hadapannya, kemarahan yang tadinya berkilat di sepasang mata elang Ralph mendadak surut, digantikan oleh perubahan ekspresi yang begitu cepat hingga membuat Meghan terpaku."Jadi, kau tidak mau melakukan itu, Meghan?"Ralph menatapnya dengan sepasang mata yang tampak rapuh. Iris gelapnya dibuat bergetar, memancarkan luka dan kekecewaan yang terlihat begitu nyata, seo







