Fragmen di Bawah Hujan
Ey senjatentang hujan dan rindurenungan sepertiga malamhujan dan kenanganjangan melamun saat hujan
Rendra menggenggam tangan Aira, erat tapi tetap lembut, seolah takut jika genggamannya terlalu kuat dapat menghancurkan sesuatu yang rapuh di sekeliling mereka.
“Kita buka bersama,” katanya.
Mereka melangkah mendekat. Setiap langkah terasa seperti melewati memori yang bukan milik mereka, tapi menempel pada tulang mereka, seperti sejarah yang lupa diberi tanggal.
Ketika mereka membuka pintu itu, ruangan kecil itu kosong.
Tidak ada anak kecil. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya sebuah tempat tidur kecil yang tersusun rapi, selimut biru pudar, boneka kain yang sudah kusam, dan sebuah jendela yang setengah terbuka, seolah seseorang baru saja melongok keluar.
人気のチャプター