Ibu Mertuaku Penuh Drama
Emi menyambutku di depan teras sambil mengendong Arthur yang baru saja bangun tidur.
“Bisa, nanti sekalian langsung buat satu adonan aja terus tinggal dibagi, nggak pake dekor juga kan? kalau begitu langsung aku kerjakan, nanti kalau sudah jadi biar kamu yang mengantar. Kira-kira hari ini sudah bisa close order kah? Terutama yang untuk pesan hari ini, takutnya kita kewalahan,” kataku.
“Sudah, Kak. Terakhir Ibunya Mbak Shinta.” Aku mengangguk kemudian mengendong Arthur sebentar untuk menyusuinya.