Masuk97Jalinan waktu terus bergulir. Zikria telah kembali ke Jakarta dan melanjutkan kehidupannya, meskipun tanpa sang istri. Setiap malam mereka akan bergantian menelepon guna menyalurkan kerinduan, sekaligus menjaga cinta agar tetap mekar. Pagi menjelang siang itu, Zikria tengah berada di ruang rapat kantor BROTHERS, di lantai 5 gedung PBK. Semua orang terlihat fokus mendengarkan penjelasan Anzac, direktur marketing perusahaan tersebut. Pria asli Australia itu tampak tenang dan sangat percaya diri dalam memaparkan kemajuan semua proyek, yang mereka kerjakan bersama. Pria tersebut dulunya pernah bekerja sebagai perawat, selalu jadi anggota tim medis di semua peperangan yang dihadapi tim aliansi. Anzac merupakan ajudan tim lapis 14, yang dulunya pernah menjadi asisten Bryan, saat sang bos menetap di Sydney. Sebab usianya sudah 35 tahun, Anzac tidak lagi aktif sebagai bodyguard sesuai dengan aturan ketat perusahaan itu. Anzac menerima ajakan Bryan untuk pindah ke Indonesia, dan bertuga
96Zikria dan tim pengantar, memandangi ratusan orang yang tengah menaiki dua pesawat besar dan dua pesawat kecil, dengan logo yang berbeda. Fitra ikut dalam rombongan ke Indonesia, karena dia harus menuntaskan tugas lain.Sebagai ganti Fitra, Gidati Puji Nindya, anggota tim lapis 26, akan menetap di Nanxun, guna menemani Asmiratih dan Ferlita. Selain Gidati, Li Mye Na juga ikut tinggal di tempat yang sama guna menjalankan tugas barunya, sebagai asisten Asmiratih khusus urusan proyek HWZ. Setelah keempat pesawat itu mengudara, Zikria dan yang lainnya langsung berpamitan pada tim Shanghai. Kemudian mereka beranjak menaiki bus, yang akan mengantarkan mereka ke stasiun pusat. Asmiratih sibuk berdiskusi dengan Li Mye Na guna mengatur jadwal kerja mereka. Sementara Gidati memperlancar bahasa Mandarin dengan bantuan Ferlita. Sebelumnya di Indonesia, Gidati telah mempelajari bahasa itu selama tiga bulan, pada Hana, Kakak sepupunya. Pada kursi terdepan, Zikria mendiktekan proposal proyek b
95 *Tim Aliansi*Liu Bin : Bang Adit melotot, mukanya menyeramkan. Syandana : Aura pembunuhnya keluar maksimal. Tang Jason : Keren! @Aditya. Risnindar : Ini baru Abang Ajudan Selembe. Bian Jeremy : Sampai sekarang aku nggak paham, arti selembe itu apa.Syafid : Wajah datar. Cheung Jianzhen Rui : Lempeng. Risbandi : Cool abis. Zheung Yuze : Aku suka waktu lihat Bang Adit mengamuk dan membantai Ruan Haakon. Zalman : Dari semua perang yang kuikuti, yang kemaren itu, paling rapi dan clean. Zhiao Fillbert : Betul. Mereka sudah kocar-kacir dari baru datang. Gumilang : Baru nongol, langsung diserang tembakan dan panah api. Sha Jun Hui : Aku menikmati ketakutan di wajah mereka.Aswin : Kayaknya, pasukan lawan banyak yang masih ABG. Yin Sueh-yn : Betul, @Bang Aswin. Kebanyakan baru pada lulus high school. Wirya : @Yin Sueh-yn. Yang kuminta waktu itu, sudah ada? Yin Sueh-yn : Sudah, @Bang W. Tapi baru dapat 22 orang. Wirya : Nggak apa-apa. Tarik dan tempatkan mereka di mess PB.
94Suasana di ruang tamu kantor polisi, terlihat ramai orang yang sebagian besar adalah keluarga dari anggota triad. Berbagai omelan terdengar dari seantero ruangan, sebelum satu per satu preman itu dibebaskan polisi, dengan uang jaminan dari keluarga masing-masing. Sebab mereka hanyalah preman level bawah, tidak ada tekanan dari tim pengacara pihak PBK, dan boleh dibebaskan. Namun, tidak dengan semua pemimpin dari lima kelompok triad kelas rendah itu.Seluruh kuasa hukum pihak gangster sudah berupaya sekuat tenaga. Mereka bahkan siap membayar uang jaminan miliaran guna membebaskan semua klien. Akan tetapi, usaha mereka gagal total. Selain karena kuasa hukum tim PBK lebih berkuasa, pihak berwajib pun sudah muak dengan berbagai keributan yang disebabkan kelompok triad. Hingga tidak ada celah sedikit pun yang bisa ditembus para pengacara kelompok gangster, guna membebaskan klien mereka.Sore itu, suasana kantor polisi yang sudah cukup tenang, kembali dihebohkan dengan kedatangan beber
93Yao Scott memerhatikan para ajudan senior di sekelilingnya. Putra sulung keluarga Yao itu membatin, jika rekan-rekannya itu tidak ada yang tidak terluka. Semuanya menderita memar, bahkan ada yang luka cukup parah.Tatapan Yao Scott berhenti pada pasien di ranjang. Lelaki muda itu terlihat pucat kesi, seusai mengalami dua tusukan dalam di paha dan perutnya. Yao Scott membisikkan sesuatu pada Muyang, yang membalas dengan anggukan.Yao Scott mendekati sekelompok orang yang merupakan keluarga dan kerabat Herjuno. Yao Scott berdeham untuk menarik perhatian orang-orang tersebut, sebelum dia merunduk untuk memberi hormat, yang segera dicegah Mahesa."Aku memberi penghormatan pada kalian, sebagai ucapan terima kasih, sekaligus penyesalan terdalamku, hingga Herjuno terluka parah," tutur Yao Scott setelah menegakkan badannya."Tuan tidak perlu menghormat," sahut Mahesa dalam bahasa Inggris. "Adikku terluka, itu sudah takdirnya," lanjutnya. "Pakai bahasa Mandarin, Sa," goda Zulfi.Mahesa men
92 "Mas, bisa tolong obatin?" tanya Aditya, seusai melepaskan jaketnya.Fachri menyambangi Ajudan Selembe dan memeriksa luka di sepanjang lengan kanan pria tersebut. "Duduk dulu, Om," ucapnya, sembari berdiri dan memberikan kursinya "Kena apa ini?" desaknya sambil mengamati luka itu."Pedang pendek Ruan Haakon," terang Aditya."Aku bersihkan dulu. Tahan, ya. Agak perih." Dokter muda itu meraih botol alkohol dan gumpalan kapas, serta kasa. "Zid, tolong ambilkan obat luka," pintanya, sebelum memulai tugasnya. Aditya meringis menahan perih saat lukanya dibersihkan. Dia mengaduh ketika Fachri menekan area paling dalam dengan kasa, supaya bagian itu bisa dibersihkan secara maksimal.Bayazid mendekat sambil membawa cairan obat tradisional Tiongkok. Setelah Fachri mundur, Bayazid mengoleskan obat itu ke tangan Aditya, dengan hati-hati. "Bang, Ruan Haakon, di mana?" tanya Mahesa, yang baru meletakkan Ruan Eadwald ke kasur tipis."Kukunci di container belakang," jelas Aditya dengan santai.
07Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya. Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah m
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T
06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di
01"Dek, nikah, yuk!" ajak Zikria Hafidz Shiddique. Asmiratih Kirania Bryatta tertegun sesaat, lalu dia menyahut, "Nggak mau." Raut wajah semringah yang semula ditampilkan Zikria, mendadak berubah masam. Pria berkumis tipis itu mengamati perempuan yang telah menjadi kekasihnya, sejak 2 tahun sila







