MasukHari yang dinanti akhirnya tiba.Langit pagi tampak cerah, seolah ikut merayakan hari bahagia yang telah lama dipersiapkan. Area Venue dipenuhi rangkaian bunga putih dan pastel, lampu kristal berkilau, serta deretan kursi tamu yang tertata rapi. Musik lembut mengalun, mengiringi langkah para tamu undangan yang hadir dengan wajah penuh senyum.Ara berdiri di ujung lorong, mengenakan gaun pengantin yang beberapa hari lalu ia dipilih bersama Elvano. Gaun itu jatuh sempurna di tubuhnya, anggun, lembut, dan tidak berlebihan. Tangannya sedikit bergetar saat Papa Hendra menggenggamnya erat."Kamu cantik, nak" bisik Papa Hendra pelan."Dan Papa bangga padamu."Ara tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk. Saat musik berubah, ia melangkah maju perlahan, menapaki lorong menuju altar. Pandangannya sempat tertuju pada Elvano yang berdiri menunggunya. Pria itu tampak rapi dan tenang, namun tatapan matanya mengunci Ara seolah dunia di sekeliling mereka lenyap.Ketika Ara tiba di sisinya,
Suasana kantor Paramita Group siang itu sebenarnya berjalan normal. Ara duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop sambil menandatangani beberapa dokumen yang baru saja dikirimkan oleh tim keuangannya.Ia mengenakan blazer krem dengan rambut terurai rapi, penampilan profesional yang mencerminkan posisinya sebagai putri pemilik perusahaan sekaligus sebagai kepala arsitek.Ketukan pintu terdengar cepat, disusul langkah tergesa.“Nona Ara,” Julian, asisten pribadi Papa Hendra, masuk dengan wajah sedikit panik.“Ada tamu yang lancang, saya sudah berusaha mencegah, tapi dia memaksa masuk.”Ara mengangkat wajahnya.“Siapa, Julian?”Julian menelan ludah.“Kania Elara.”Nama itu membuat Ara berhenti menulis. Dia tau Kania siapa, seorang model high-fashion. Ia menatap Julian beberapa detik, lalu menghela napas pelan.“Tidak apa-apa,” katanya tenang.“Izinkan saja dia masuk.”Julian terlihat ragu, namun tetap mengangguk.“Baik, Nona.” Ia mundur perlahan dan menutup pintu.Beberapa detik
Keesokan paginya, Ara dan Elvano tiba di sebuah butik pengantin eksklusif di pusat kota. Bangunan itu didominasi kaca besar dengan interior bernuansa putih gading dan emas lembut. Begitu mereka melangkah masuk, seorang konsultan butik menyambut ramah dan langsung mempersilakan Ara untuk melihat deretan gaun yang tergantung rapi.Elvano berdiri beberapa langkah di belakang Ara, kedua tangannya masuk ke saku celana.“Coba satu per satu,” ujarnya santai.“Aku mau lihat mana yang paling cocok.”Ara mengangguk, lalu mengambil gaun pertama. Gaun itu sederhana, potongannya klasik dengan renda tipis. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari ruang ganti.Elvano menatap sekilas, lalu menggeleng kecil.“Terlalu… aman,” katanya jujur.Ara mendengus pelan.“Ini namanya elegan.”Gaun kedua membuat Ara mengernyit begitu bercermin. Bagian dada terlalu rendah, punggung terbuka lebar. Saat ia keluar, Elvano langsung mengalihkan pandangan, lalu menghela napas.“Yang ini… terlalu berani,” katanya singkat.
Tekanan itu tidak datang dalam bentuk teriakan atau tuduhan langsung.Ia datang pelan lewat tatapan, bisikan, dan jeda yang semakin sering.Ara merasakannya setiap kali keluar rumah. Senyum orang-orang yang terlalu ramah. Pertanyaan yang terdengar ringan tapi menusuk.“Kamu bahagia, kan?”“Elvano orangnya protektif sekali, ya?”“Kalian sudah tinggal bersama?”Ara selalu menjawab dengan senyum.Senyum yang terlatih.Senyum yang melelahkan.Malam itu, Ara duduk di ruang keluarga mansion. Lampu temaram, televisi menyala tanpa benar-benar ia tonton. Ponselnya tergeletak di meja, layar menghadap ke bawah, ia sengaja menjauhi dunia.Ketukan pintu terdengar.Elvano masuk dengan langkah tenang. Namun dari sorot matanya, Ara tahu—ada sesuatu yang berat.“Kamu kelihatan lelah, Ara.” ucap Elvano pelan.Ara mengangguk.“Sedikit.”Elvano duduk di seberangnya.“Ara… hari ini ada dua orang media yang mencoba masuk ke area mansion.”Ara menegang.“Apa?”“Aku sudah minta keamanan menanganinya,” lanjut
Pagi itu, Ara terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh getaran ponselnya yang tak henti berbunyi.Satu pesan masuk.Lalu dua.Lima.Puluhan.Ara mengernyit, bangkit setengah duduk dan meraih ponselnya di meja samping ranjang. Begitu layar menyala, napasnya tercekat.Notifikasi media sosial.Pesan dari relasi keluarga.Panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.Tangannya sedikit gemetar saat membuka salah satu berita yang dikirim Naya.“KABAR BAHAGIA! Elvano Narendra Adhitama Resmi Melamar Arabella Saskia Paramita”Di bawah judul itu, terpampang foto dirinya dan Elvano di tepi pantai malam itu. Siluet mereka, cahaya lilin, meja makan yang romantis, semuanya tampak seperti kisah cinta sempurna.Padahal Ara tahu… kenyataannya jauh lebih rumit.“Astaga…” gumamnya pelan.Ia menggeser layar ke bawah. Komentar demi komentar bermunculan.Serasi sekali!Ara beruntung banget!Akhirnya Elvano menikah juga!Semoga langgeng!Namun di antara ucapan selamat, ada pula komentar yang membuat dada
“El mengajakku makan malam?” Ara mengernyit saat menerima pesan Elvano.Bersiaplah jam tujuh. Kita akan malam bersama.Hanya itu. Tidak ada penjelasan lain.Itu pertama kalinya Elvano mengajaknya makan malam resmi, bukan pertemuan keluarga, bukan acara bisnis. Ara menelan ludah tanpa sadar.Gugup.Tak lama kemudian, sebuah kotak besar tiba di kamarnya. Ara membukanya dan langsung membeku.Dress malam berwarna Champagne lembut, dengan potongan anggun namun berani.“Elvano…” gumamnya pelan.Ara segera meneleponnya.“El, aku tidak bisa pakai ini.”“Kenapa?” suara Elvano terdengar santai.“Terlalu… terbuka.”“Kamu cantik,” jawab Elvano tanpa ragu. “Dan itu aku pesan khusus untukmu.”Ara terdiam.“Aku tetap tidak enak.”Nada suara Elvano berubah lebih dalam, lebih tegas.“Ara, dengar. Kamu adalah calon istriku.”Kalimat itu membuat jantung Ara berdegup lebih cepat.“Dan aku ingin kamu memakainya,” lanjut Elvano.“Bukan untuk siapa pun. Hanya untukku.”Ara akhirnya menghela napas pasrah.“…
Sesampainya di mansion, suasana terasa sunyi, sebuah keheningan yang dingin dan menusuk. Ara melepas blazer-nya dengan gerakan lelah, membuang napas berat. Ia mengharapkan sebuah ucapan selamat dari orang tuanya. Namun, nihil. Tidak ada sambutan, tidak ada suara. Hanya keheningan.Ia melangkah perl
Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup prope
Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mat
Pesawat jet pribadi milik Elvano dengan mulus membelah langit malam, menembus lapisan awan tebal di atas hamparan Jakarta yang berkelip. Di dalam kabin yang dirancang khusus, dihiasi kayu mahogany gelap dan kulit Italia berwarna krem, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali terinterupsi oleh







