Share

BAB 18

Author: Indah.poe.try
last update publish date: 2026-06-30 00:24:56

Elang mengeryit. "Buat apa ucapan itu? Aku nggak mau kemana-mana."

“Ohh…” Ivanka menelan kekagetan dan keheranannya dalam satu waktu. Jangan ge-er, katanya dalam hati, memperingatkan diri sendiri.

Iva tak lagi memperhatikan Elang. Satu per satu digantungnya cucian yang lembab itu lalu menuju ke meja makan untuk membuka bungkusan makanan yang tadi ia beli bersama Kang Setia.

Ah iya, ia akan memanggilnya begitu aja. Kang Wawan terasa bagai memanggil orang tak dikenal.

Sambil mengunyah gadis itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 19

    Semalam hujan deras namun tanpa suara guntur yang menggelegar sampai dinding rumah bergetar. Itu sebabnya Iva berani tidur di kamarnya sendiri. Tapi tekadnya untuk tak bergantung pada Elang sudah sebulat bola voli jadi seandainya semalam ada kilat dan petir sambar menyambar pun, ia akan tetap tidur di kamar sempit dan lembab ini.Hampir pukul enam, hawa masih dingin sisa hujan. Ivanka melingkupkan sweaternya untuk mengurangi rasa menggigil. Gadis itu membuka kulkas, bergerak cepat untuk membuat sarapan sekaligus bekal untuk dirinya. Dibukanya jendela dapur agar aroma masakan tak bertahan di dalam rumah.Menunya pagi ini sangat sederhana hanya telur orak-arik yang ia campurkan ke dalam tumisan bayam ditambah tempe goreng tepung. Selama ini ia mengisi kulkas dengan menitip belanjaan pada istri mang sarif. Iva menengok waktu melalui handphone yang ia letakkan di meja makan.Ia harus berangkat lebih pagi karena harus mengambil motor mang Sarif dulu dari bengkel.Benda itu berdering tak la

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 18

    Elang mengeryit. "Buat apa ucapan itu? Aku nggak mau kemana-mana."“Ohh…” Ivanka menelan kekagetan dan keheranannya dalam satu waktu. Jangan ge-er, katanya dalam hati, memperingatkan diri sendiri. Iva tak lagi memperhatikan Elang. Satu per satu digantungnya cucian yang lembab itu lalu menuju ke meja makan untuk membuka bungkusan makanan yang tadi ia beli bersama Kang Setia.Ah iya, ia akan memanggilnya begitu aja. Kang Wawan terasa bagai memanggil orang tak dikenal.Sambil mengunyah gadis itu menonton serial tv. Rencananya setelah makan ia akan menelepon Mamanya tapi perempuan yang ia rindukan itu malah meneleponnya lebih dulu. Ia merapikan bungkus makanannya lalu masuk ke kamar, tak mau pembicaraannya didengar.“Gimana kondisi Papa, Ma?” bagi Iva, sekarang bagian paling pedihnya adalah pembiayaan yang ditanggung oleh mertuanya, bukan lagi penyakit Papanya.“Papamu stabil Va, yah… walaupun operasinya mesti ditunda karena ada sesuatu yang mama lupa di ginjalnya.”Iva mengangguk-angguk

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 17

    Ivanka betul-betul menikmati interaksinya bersama para volunteer yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, bahkan turis. Apalagi ketika ia bisa berbagi cerita bersama anak-anak itu, kebahagiaannya jangan ditanya. Matahari telah terbenam saat rombongan itu turun bersama dengan hati-hati. Sudah ada jalanan yang biasa dilewati oleh penduduk setempat tapi bagi pendatang yang baru pertama kali seperti Ivanka, tetap harus waspada karena lumayan curam."Sampai ketemu minggu depan!" Pak Setia melambai ke arah rombongan volunteer.Iva melakukan hal yang sama. "Jaketnya sudah dipakai... Iva?" Lidahnya menggantung begitu saja, terasa kaku saat berusaha mengucap nama itu tanpa embel-embel 'bu'."Sudah Kang." Iva naik ke boncengan guru olah raga itu. masih dengan semangat yang sama. Karena tadi Iva memberitau panggilan akrabnya, Setiawan juga memberitau panggilan akrabnya yaitu Wawan tapi rasanya lebih nyaman memanggil lelaki yang lima tahun lebih tua darinya itu dengan sebutan 'kang' saja.Motor be

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 16

    Silva cemberut tapi mengambil sendok dan mulai menyuap. "Emh... enak banget mas. Beli dimana?"Elang terdiam sejenak kemudian mengangkat bahu. "Aku nggak tau tadi anak proyek yang aku minta membeli ini.""Tanyakan ya mas, ini bumbunya pas banget. Sawinya juga sesuai dengan seleraku, nggak kematengan."Selera makannya malah menguap mendengar pujian Silva pada masakan Ivanka. Elang tak pernah tau kalau Ivanka bisa memasak. Seingatnya, mama mertuanya malah meminta maaf kepada mamanya karena Ivanka nggak pernah ke dapur."Mas, kok diem sih?""Karena permintaanmu sulit Va. Aku hanya asal menyuruh tadi. Aku sudah nggak ingat anak proyek yang mana yang berangkat mencari tumis ini." Geramnya. Mendadak ia merasa jengkel pada kekasihnya. "Apa aku harus membuat pengumuman untuk mencari pekerja yang sudah membelikan tumis sawi ini?"Silva meminggirkan sejenak meja nampan di depannya. Perempuan itu beringsut mendekati kekasihnya, melingkarkan tangannya ke pinggang Elang. Perlahan telapak tangan Iv

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 15

    Belum juga sepuluh menit, ternyata Ivanka yang awalnya bertekad menunggui motor Mang Sarif diservis sampai selesai, memilih untuk pulang saja. Kerusakannya cukup banyak karena motor itu ternyata tak terawat sehingga tak akan selsai dalam satu - dua jam.Meskipun meragu, ia akhirnya menghubungi pak Setia. Tak sampai lima menit lelaki berkulit putih itu sudah tiba di depan bengkel.Iva membelalak takjub. "Kok cepet pak?""Biasa anak kos. Kalau dapat tawaran makan gratis paling cepet." Setiawan menyahut asal, menyembunyikan kenyataan kalau sejak awal ia memang tak melaju kencang, hanya merayapkan motornya pelan di belakang motor Ivanka. Ia merasa serba salah mau menolong saat motor matc itu bermasalah, takut dikira mau pedekate. Tapi tepat saat ia bersiap pergi setelah Ivanka berhasil mencapai bengkel sendiri, guru baru itu menghubunginya. Ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba. Setiawan langsung melajukan motor bebeknya.Sambil mengenakan helm-nya, Iva tertawa kecil. "Maaf ya pak,

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 14

    "Ide bagus bu." salah satu guru, bu Mira menyahut."Lagipula rumahnya nggak terlalu jauh dari sini." Sekarang bu Euis yang menambahkan.Dari posisinya yang agak terlindung, Iva mendengarkan itu semua dengan dada berdentam-dentam nyeri. Apakah ia berani bertemu secara langsung dengan pemilik hati suaminya? "Bu Iva, seingat saya di sekolah yang lama mengajar SD ya?" Suara bu Titik membuat Iva mengangkat kepala. Beberapa guru yang semula berdiri rapat di depannya bergeser sehinga perempuan bertubuh subur itu kini berhadapan dengan Iva."Benar bu." Gadis itu lega karena percakapan tentang suami dan kekasih suaminya berhenti sampai disitu saja."Kalau begitu nanti bu Iva bisa membantu di grup SD ya, sebentar lagi mereka datang." Senyuman bu Tutik masih sama hangatnya dengan kemarin."Baik bu." Iva mengekori pak Setia, sahabat barunya di sekolah ini."Anak-anak SD di kota mungkin lebih kooperatif karena orang tua mereka bisa membantu guru mengedukasi anaknya di rumah. Disini enggak bu. Mal

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 9

    Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi l

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 8

    Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Peki

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 7

    Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada

  • Bukan Cinta Pertama   Hari Pernikahan

    Pembawa acara yang telah mengantarkan seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir berseru penuh semangat. “Sang pengantin pria gagah dan tampan sementara pengantin wanitanya mungil, imut menawan.”Kalimat santai itu menandai berakhirnya prosesi pernikahan antara Elang Rajendra dan Ivanka Juliett

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status