Share

Bab 257

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-07-05 10:40:32

“Banding kita ditolak, Dil,” ucap Andreas, berusaha meredam intonasi.

Fadil tertegun, tubuhnya menegang di kursi. “Ditolak? Gak mungkin! Bukannya kamu bilang—”

“Hakim Pengadilan Tinggi menolak semua banding yang kita ajukan,” potong Andreas, menyodorkan berkas itu lebih dekat. “Fakta rekam medis KDRT dari rumah sakit dinilai mutlak, gak bisa diganggu gugat. Putusan pengadilan tingkat pertama dinyatakan inkrah hari ini. Perceraian kalian udah sah secara hukum. Kamu dan Shanum resmi bercerai.”

Ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Siti Hasanah
bikin si Fadil tak berkutik ,greget banget....
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
tokoh Fadil dihilangkan aja, kak. bikin ill-feel.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 257

    “Banding kita ditolak, Dil,” ucap Andreas, berusaha meredam intonasi.Fadil tertegun, tubuhnya menegang di kursi. “Ditolak? Gak mungkin! Bukannya kamu bilang—”“Hakim Pengadilan Tinggi menolak semua banding yang kita ajukan,” potong Andreas, menyodorkan berkas itu lebih dekat. “Fakta rekam medis KDRT dari rumah sakit dinilai mutlak, gak bisa diganggu gugat. Putusan pengadilan tingkat pertama dinyatakan inkrah hari ini. Perceraian kalian udah sah secara hukum. Kamu dan Shanum resmi bercerai.”Kalimat itu bagai petir menyambar Fadil. Otot di pelipisnya menegang hebat, wajahnya memerah padam.Brak!Fadil memukul meja dengan kedua tangan hingga menimbulkan dentuman menggema di ruangan. Ia bangkit, menendang kursi besi di belakangnya hingga terjungkal ke lantai.“Brengsek! Gak mungkin! Ini pasti permainan dokter sialan itu!” teriak Fadil, matanya melotot tajam. “Jalang itu gak boleh lepas dari aku! Dia istriku! Sampai kapan pun dia tetap milikku! Cari cara lain! Gugat lagi! Hancurkan karie

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 256

    “Mas Prana, gimana hasilnya?” potong Shanum cepat, tak sanggup lagi menahan desakan di dadanya. “Sidangnya udah selesai, kan?”Beberapa detik hanya terdengar embusan napas lelah. Jeda itu terasa seperti siksaan bagi Shanum, sebelum akhirnya suara Prana kembali, kali ini jauh lebih ringan.“Udah, Num. Semuanya udah selesai,” ucap Prana.Shanum menahan napas. “Terus... hasilnya gimana, Mas?”“Ditolak, Num,” sahut Prana pelan, datar tanpa emosi.Lidah Shanum kelu. Seluruh sendi tubuhnya terasa lepas. “Ditolak?” ulangnya mencicit. “Perceraian aku ditolak? Jadi... aku gak jadi cerai?”Ketakutan merayap naik, mencengkeram dadanya hingga sesak. Bayangan harus kembali ke rumah Fadil, menghadapi siksaan pria itu, berputar di kepalanya. Air mata yang sejak tadi ditahan luruh begitu saja.“Mas,” seru Shanum setengah berbisik, air matanya makin deras. “Kenapa bisa ditolak? Kemarin kata Mas Hendra kalau—”“Sayang, dengerin aku dulu,” potong Prana cepat.Terdengar kekehan rendah dari seberang telep

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 255

    “Kita langsung pulang ya, Mas.”Prana tak langsung menjawab. Matanya bergerak tajam ke tiga perempuan di dekat rak pajangan yang masih berbisik sambil sesekali mengangkat ponsel. Gerakan kikuk mereka merekam diam-diam membuat otot rahang Prana mengeras. Ia paham ketakutan yang mendadak melanda Shanum.Tanpa berkata apa-apa, Prana melepas topinya, memasangkannya di kepala Shanum, menarik bagian depan agak rendah untuk menyembunyikan wajah pucat dan memar di pipi wanita itu. Beberapa lembar uang diserahkan ke kasir, tanpa menunggu kembalian.“Mas...” bisik Shanum dari balik naungan topi.“Ayo pulang. Kita masak steak,” potong Prana lembut, menyambar dua kantong belanjaan sambil menggandeng erat tangan Shanum.Begitu keluar dari supermarket, Shanum terus menunduk menatap sepatunya sendiri. Suasana manis di antara rak sayur menguap, berganti sunyi mencekam. Langkah mereka bergema di sepanjang koridor mal. Sampai akhirnya Shanum tak bisa lagi menahan beban di dadanya.“Aku ternyata memang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 254

    ‘MAMA’Prana menatap layar ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Ibu jarinya menggantung di atas tombol hijau, ragu untuk menekan. Ia melirik Shanum, menangkap perubahan raut wajah wanitanya yang mendadak pias.“Aku angkat telepon sebentar di luar ya, sayang,” pamit Prana sambil mengecup singkat dahi Shanum. Menenangkan wajah gelisahnya.Shanum hanya mengangguk kaku. Membiarkan pria itu melangkah lebar menuju balkon apartemen. Pintu kaca geser dibuka, lalu ditutup kembali dengan rapat, menyisakan sekat transparan di antara mereka.Dari ruang tengah, Shanum berdiri mematung. Matanya tak lepas dari sosok Prana di balik kaca. Pria itu menempelkan ponsel ke telinga dengan satu tangan bebas bertumpu pada pagar pembatas balkon.Meskipun tak bisa mendengar satu patah kata pun yang diucapkan, Shanum bisa membaca situasi dari gerak-gerik tubuh Prana. Rahang pria itu mengeras. Sesekali ia mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar, menunjukkan rasa kesal dan frustrasi yang tertahan.Prana le

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 253

    “Darimana, Mas?” tanya Shanum, berjalan mendekat sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.Prana tersentak kecil melihat kedatangannya, lalu cepat mengubah ekspresi menjadi santai. Ia melepas jaket, meletakkannya begitu saja di sandaran kursi makan.“Ada urusan tadi dikit di luar,” jawab Prana pendek.“Urusan?” Shanum menaikkan alis, menatap penuh selidik. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebelum mandi, ia melihat Prana masih main ponsel di rumah. “Urusan apa pagi-pagi begini?”Prana tak langsung menjawab. Ia melangkah lebar menghampiri Shanum, menariknya ke dalam pelukan erat—seperti baru pergi berhari-hari dan sangat merindukannya. Shanum tertegun sesaat, tapi membiarkan tangan Prana melingkari pinggangnya.“Mas, gak siap-siap ke rumah sakit? Jadwal kamu bentar lagi mulai, lho.”Prana mengecup puncak kepalanya yang masih agak basah. “Aku ambil cuti.”Shanum langsung melepaskan diri, mendongak dengan dahi berkerut. “Kenapa tiba-tiba ambil cuti. Pasi

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 252

    “Nikah?” ulang Shanum lirih. Matanya berkedip beberapa kali, seperti berusaha memastikan dirinya benar-benar sudah bangun. “Mas... aku gak salah dengar?”“Enggak,” ulang Prana, kali ini dengan artikulasi jauh lebih jelas dan tegas. “Begitu putusan banding dari Pengadilan Tinggi keluar, kita menikah. Aku gak mau nunggu lebih lama lagi.”“Mas, kamu gila?” Shanum langsung bangkit duduk. “Sidang banding aja belum dimulai! Status hukumku masih menggantung. Di luar masih membicarakan kita. Kalau kita menikah sekarang, itu sama saja membenarkan kalau kita berhubungan sebelum aku bercerai.”“Biar saja mereka menuduh apa pun,” sahut Prana, tak bergeming dari posisinya. “Toh... memang kenyataannya aku mau kamu jauh sebelum kejadian ini.”“Mas...” Suara Shanum terdengar sedikit ketakutan dan panik.“Kalau kita menikah, aku punya hak hukum penuh untuk melindungimu. Siapa pun gak akan punya celah lagi buat mengganggumu. Kita pindah dari sini.”Shanum menggeleng-gelengkan kepala, merasa dunia di se

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 19

    “Oh… ini istrinya Pak Fadil. Sebentar ya, Bu. Tadi ponselnya di titip ke saya, Pak Fadil lagi presentasi,” jawab wanita yang tadi pagi mengangkat telepon FadilShanum terpaku, tangannya yang memegang gunting untuk memotong daun kering terhenti di udara. Kata-kata wanita itu terus terngiang. Suarany

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 18

    Rasa penasaran mendorongnya menekan tombol daya ponselnya. Ia menunggu beberapa detik yang terasa sangat lama, berharap ada logo merek atau sekadar cahaya yang muncul dari kegelapan layar.Namun, layar itu tetap hitam pekat. Shanum mencoba menekannya berkali-kali, namun nihil. Ponsel itu mati total

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 4

    Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 3

    “Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status